SERENADE


Ada seorang pemuda, yang selalu datang ke tempat ini seusai senja. Bahu kirinya memanggul gitar tua peninggalan ayahnya yang mati muda dan sebuket kembang dahlia digenggam di tangan lainnya. Pemuda itu akan duduk di tempat kesukaannya, di bawah rerimbunan pohon akasia dekat dengan semak palma. Dia duduk sabar menunggu, hingga mendengar lonceng angelus berdentang dari kejauhan. Saat itulah dia berdiri, mendongak menatap sebentuk jendela tertutup di lantai dua.

Sesaat setelah lonceng angelus tak lagi terdengar, daun jendela di lantai dua itu mengayun terbuka. Bagai sebuah pentas drama, bingkai jendela itu adalah panggung pertunjukkannya. Lampu benderang menyorot dari dalam ruangan dan menghasilkan sepetak cahaya di rerumputan. Lelaki itu lalu berdiri tepat di dalam petak cahaya dengan gitar dalam pelukan. Tirai tipis biru muda melambai, lalu bintang utama pun muncul lah.

Wanita muda itu bersandar di kusen jendela kamarnya. Angin petang yang menggigilkan berhembus menyibak tirai yang tak tertutup sempurna. Di waktu-waktu inilah, pemuda itu datang. Berdiri di bawah jendela kamar. Dengan maksud dan tujuan yang tak pernah disampaikan. Namun, entah mengapa kehadiran pemuda itu begitu dia tunggu. Begitu dia rindu. Disibakkannya tirai biru muda hingga terbuka, lalu mulailah pemuda itu memetik gitarnya.

Tirai yang terbuka bagai instruksi tanpa kata bagi si pemuda. Dari gitar yang disandangnya mengalunlah nada-nada indah. Angin menerbangkannya hingga lantai dua dan disampaikan sebagai rangkaian kalimat memuja. Sebongkah harapan menggumpal dalam hatinya. Semoga saja sang gadis pujaan suka.

Gadis itu memejamkan mata. Meresapi setiap nada, seolah itu adalah rayuan yang melelehkannya. Ya, dia meleleh karena sebaris melodi. Yang dimainkan pemuda yang bahkan tak pernah didengarnya bersuara. Apalagi berteriak memanggil namanya. Akan tetapi, wanita yang sudah terlalu muak dengan rayuan semu lelaki pasti mengerti. Nada-nada indah itu tak pernah berucap kepalsuan. Semua yang didengarnya tulus dan tak menuntut. Labuhan pamungkas, tempatnya berlabuh tanpa perlu was-was.

Petikan gitar itu berhenti. Sang pemuda menatap gadis di atas sana seakan berkata, sekian. Senyum lebar mengusaikan rayuan dalam nadanya hari ini. Hanya itu yang sanggup dilakukannya dalam nama ketidaksempurnaan. Dia tahu dia takkan sanggup menawarkan kata-kata. Namun dia juga tahu, musik tak pernah gagal menyampaikan makna.

Sang pemuda mengacungkan selembar kertas ke atas, hingga si gadis dapat membaca sederet kata tertulis di atasnya. "Apa selanjutnya?"
Lalu gadis itu melemparkan segulung kertas balasan. Huruf-huruf rapi tuan putri berbaris di sana. "Salut d’Amour, Edward Elgar", itu permintaan selanjutnya. Sebuah pekerjaan rumah yang akan dirampungkannya dengan sukacita. Beberapa hari lagi dia akan kembali. Dengan gitar kesayangangan, memainkan lagu permintaan gadis pujaan.

Petang datang terlampau cepat. Ketika hari hanya menyisakan gulita, pemuda itu mengundurkan diri. Sebelum pergi, pemuda itu tak pernah lupa satu hal. Setelah meletakkan bunga dahlia yang dibawanya di bawah jendela, dia menyampaikan sepenggal isyarat. Telunjuk menunjuk dadanya sendiri, kemudian disilangkannya kedua tangan yang jemarinya terkepal di depan dada sebelum akhirnya mengarahkan telunjuknya ke atas, tepat ke arah gadis itu berada.
Gadis itu tersenyum. Dianggukkannya kepala sebagai tanda. Dia tahu, bahasa tanpa suara itu hanya berarti satu.
Aku mencintaimu.

Ujung Pelangi



Kupelankan langkah, jam tujuh hanya tinggal beberapa menit lagi, dan aku tidak peduli. Mungkin hari ini aku akan terlambat, gajiku bisa saja dipotong. Namun apa yang hadir di depanku saat ini membuat segala seuatunya impas. Aku bagai dikutuk karena tak sekalipun bisa melihatnya lagi kecuali dalam versi imitasi. Jika aku dan kawan lama ini dapat berekonsiliasi, aku mungkin diberkati.
Dibingkai langit pagi yang kelabu, aku melihat lengkung sempurna itu. Sebuah pelangi. Dan angin sepoi bulan Juni bagai mendesah di depan muka kemudian meninggalkan jejak kata, ‘Apa kamu tahu, dimana ujung pelangi itu?.

---***---

Malam itu aku bermimpi. Aku berlari. Ya, hanya berlari. Aku tak tahu apa yang kukejar, atau apa yang mengejarku. Yang aku tahu aku hanya berlari. Melintasi pematang sawah yang licin berlumpur. Menyeruak daun-daun pohon singkong yang akarnya membuatku tersandung-sandung. Sungai berair jernih menghadangku dan dengan tergesa kuseberangi jembatan bambu. Tiba-tiba aku tergelincir dan jatuh ke sungai. Air sedingin es mendekap tubuhku. Aku tak bisa bernapas. Lalu aku terbangun dengan tubuh basah karena keringat dan jantung berdebar tak normal.

---***---

“Pulanglah”, semua orang mengucap nasehat senada. Semua orang menyuruhku pulang. Kemana?
“Bisa jadi itu firasat”, yang lain menambahkan.
Firasat? Akan apa?
Seharian aku bergelimang rasa ragu. Ada yang berteriak jauh di dalam hatiku yang sudah kubekukan sejak lama. Berseru menyuruhku luluh. Namun pencarian tanpa muara ini menahanku untuk tetap tinggal, tak kemana-mana.
Lalu sebuah pesan singkat yang hadir di ponselku sore inilah yang sanggup membuatku mengalah.
“Cepat pulang. Bapakmu sakit. Parah.”

---***---

Aku mengemasi barangku yang tak banyak. Kujejalkan semua dalam ransel besar pemberian Bapak. Telapak tangan mungil menggenggam lembut pergelangan tanganku.
“Apa kamu benar-benar mau pergi?”
Kujawab dengan anggukan.
“Biar saja dia pergi, Bu. Dia sudah besar. Biar dia cari hidupnya sendiri”, kata Bapak.
Kata-kata yang bahkan masih menimbulkan gema yang bersahutan dalam ingatanku hingga saat ini, walau sudah tahunan usianya.
Tekadku membulat. Kusandang ransel di pundak dan melangkah keluar rumah. Kuhampiri Bapak yang duduk di kursi rotan kesayangan di beranda. Kucium punggung tangannya seperti hari-hari biasa saat aku hendak berangkat sekolah. Namun kali itu tak ada tatapan hangat dan belaian tangannya di puncak kepalaku. Kali itu tak ada kalimat ‘Hati-hati. Jangan pulang kesorean’. Kali itu aku bahkan tak yakin kapan aku akan pulang.
Ibu berdiri menunggu di bawah pohon rambutan dengan mata basah dan tangan yang berkali-kali meremas jemarinya sendiri. Kupeluk Ibuku erat, dan berpaling sebelum dia melihat mataku berkaca-kaca. Aku tahu ibu ingin menangis sekerasnya, namun ketabahan yang mungkin disiapkannya selama ini membuatnya bertahan untuk hanya sekedar meneteskan air mata. Digenggamnya tanganku sambil menyelipkan sesuatu. Dan yang paling kuingat dari pagi terakhirku di rumah adalah suara ibu yang lirih menendang telak hatiku, “Meski kamu tidak tumbuh di rahim ibu, bukan berarti kamu tidak tumbuh di hati ibu”.
---***---

Jalanan rusak membuat bis yang kutumpangi bagai bergerak dalam gelombang. Telingaku dijejali bisingnya suara kendaraan yang berseliweran di balik jendela bis, tempat kepalaku kusandarkan. Kucoba pejamkan mata lelahku. Perjalanan ini masih panjang dan aku ingin meminta jeda barang sekejap. Untuk mengumpulkan daya aku butuh senyap. Perlu sesuatu untuk menyegel otakku dari masa lalu. Namun ruang kedap mana yang sanggup membungkam suara  Bapak dan Ibumu?

---***---

“Dahulu kala, ada bidadari yang tinggal di khayangan. Ketika dia beranjak dewasa, dia diperbolehkan turun ke bumi. Ayahnya berpesan, saat kau ingin pulang, carilah ujung pelangi. Itulah jalan pulangmu. Jika kau sudah menemukannya, itu berarti kau sudah di rumah”
Dari semua dongeng yang bapak sering ceritakan dulu, hanya dongeng tentang ujung pelangi yang masih kuingat. Selama beberapa tahun, aku berusaha mengungkap fakta. Dongeng yang paling sering bapak ceritakan padaku pasti menyembunyikan makna.
Dan dini hari di dalam bis itu, aku terjaga dalam remang, mencoba merangkai potongan dongeng yang teracak dalam benak.

---***---

Angkutan yang kutumpangi membawaku melintasi jalan aspal rusak dan berdebu yang membelah hamparan sawah. Hijaunya padi dan sinar mentari pagi tampak serasi. Sungai berair jernih di sisi jalan itu begitu menggoda, seolah menggamitku untuk turun dan berendam di sana.
Tahunan kutinggalkan tempat ini, namun segalanya masih tampak sama. Tempat ini bagai tak mampu ditembus laju waktu. Tempat ini bagai berada di antara jeda.
Aku tinggal di kota kecil. Di sebuah kampung dimana pematang sawah bagaikan jalan utama dan padi bukan hanya tanaman penghasil nasi namun juga penopang harapan. Di sini segala sesuatunya berjalan rampak. Orang-orang bersyukur dan menikmati hidup sekeras mereka mencangkul. Aku sering beralegori, jika ibukota seumpama musik rock, maka tempat tinggalku berirama bossanova.  Syahdu dan mendayu. Tempat ini berdenyut lambat dan sedikit improvisasi hanya membuahkan tanya, “Nduk, kok baru pulang? Kemarin itu kemana saja?”, seolah aku hanya pergi barang sehari. Seolah minggat dari rumah adalah kisah lumrah.

---***---

“Ibu dan Bapak sungguh tidak tahu. Benar-benar tidak tahu”.
Hanya itu jawaban yang kudapat ketika aku bertanya anak siapa aku sebenarnya.
Dibawa saudara ibu dari Jakarta. Tergeletak berbalut selimut di kursi pojokan terminal dan tak ada satupun yang mengakuinya. Menangis keras karena lapar. Orang menaksir umurnya baru beberapa hari. Ibu dan Bapak yang tak kunjung mendapat anak meski sudah begitu mendamba, menawarkan dengan sukarela untuk menjadi orang tua angkat bayi perempuan malang itu.
Lalu sebuah celetukan tak disengaja membuatku tercerabut dari tempatku berakar. Ini bukan soal kecewa. Hanya saja aku merasa bagai digoncang gempa yang meruntuhkan jati diri. Sebesar apapun Bapak dan Ibu angkatku menyayangiku, sebahagia apapun hidupku saat itu, aku terperangkap identitas semu. Jadi, ketika aku pergi hanya dengan berbekal selembar foto usang yang diselipkan ibuku di hari kepergianku sebagai satu-satunya panduan, yang sesungguhnya kucari bukan masa laluku. Aku mencari alas, fondasi yang mendasariku untuk bisa melanjutkan hidup lagi. Sebagai diri sendiri.
Dan itu hanya bisa kudapat jika aku menemukan orang tua kandungku.
Tapi ini ibukota. Lebih dari sepuluh juta jiwa beredar di dalamnya. Bagaimana foto sepasang remaja yang sudah terkoyak masa mampu membantuku?
“Ini bagai mencari jerami dalam tumpukan jarum”, kataku pada diri sendiri setiap kali. Dan hampir setiap malam selama beberapa tahun ini, aku hanya mampu memandangi foto itu dengaan perasaan asing, sementara pikiranku buyar dihembus pusaran tanya.
“Aku harus mencari ujung pelangi. Itu yang Bapak bilang kalau aku ingin pulang”, putusku dalam hati.
Namun anak angkat yang durhaka pun punya kutukannya. Aku tak pernah lagi melihat pelangi.

---***---

Aku sampai di ujung jalan dan satu lagi langkah aku bisa melihat rumah. Jalan tanah berbatu itu tetap sama seperti saat aku dengan tekad bulat menyusurinya menuju arah yang berbeda bertahun-tahun lalu. Kuhabiskan hari-hariku selama belasan tahun berjalan dan berlari di jalan ini. Sembilan belas, jumlah langkahnya kuhafal mati. Aku bisa sampai di depan pintu rumah dengan mata terpejam. Setidaknya aku pernah beberapa kali melakukannya, dulu. Kali ini, aku tak mau mencoba. Aku takut tersesat. Pencarian panjang tanpa hasil ini membuat aku buta arah. Apalagi dengan apa yang disebut rumah.
---***---
Nduk!”
Ibuku berseru dan sedetik kemudian aku luruh dalam dekapannya. Aku tak bisa bernapas. Bukan karena pelukan erat, namun luapan rasa yang tak kuantisipasi sebelumnya. Kukira aku hanya akan cukup merasakan rindu. Tetapi pelukan ibu adalah pelatuk kecil yang membobol tanggul emosi. Semua yang kutanam dalam hati membeludak tanpa kendali.
Lucu. Aku kehilangan separuh dari diriku bertahun-tahun lalu. Kuhabiskan hari-hariku selanjutnya dengan mengais, mencari bagian yang hilang dari potongan hidupku yang terserak. Lalu di sinilah aku, melihat kembali apa yang kutinggalkan dulu. Separuh hidup yang kucari itu sesungguhnya tak pernah hilang. Akulah yang buta dan tak melihatnya.
Di sisi pembaringan Bapak, dengan tanganku yang tergenggam di tangan kurusnya, kudapatkan ujung pelangi itu. Di sinilah rumah. Aku sudah pulang.

Anak Lelaki di Samping Jendela



 Lolipop merah jambu tergolek di atas meja kerjaku. Kuraih dan kuamati. Tidak ada wanita dewasa yang mungkin menggemarinya. Tidak ada, kecuali aku. Sepasang sayap tak kasat mata seolah tumbuh di punggungku dan membawaku melayang melewati jutaan detak waktu. Mengajakku menerobos gerbang masa, lalu mendadak aku sudah berdiri tegak, di masa lalu. Masa-masa itu....

......

Masa-masa itu, saat aku berhasil lulus SMP dan masuk SMA. Masa-masa dimana anak-anak perempuan masih setia menonton ulang serial Meteor Garden untuk ketiga kalinya. Masa-masa dimana anak-anak lelaki galau menggilai band berprestasi standar macam Seventeen, The Rain, atau Cross Bottom (dan syukurlah band Melayu alay belum menjajah  musikalitas mereka). Saat itu poster yang tertempel di atas meja belajarku adalah poster Backstreet Boys dan Won Bin. Aku bertukar komik Detektif Conan terbaru dan bukan nomor pin BB. Belum ada, di antara teman-temanku, yang mengenal Friendster apalagi Facebook dan Twitter. Masa-masa itu, masa dimana kehidupan bagi kami tak lebih rumit daripada ulangan fisika dan cinta terpendam pada anak kelas tiga. Masa-masa dimana aku merasakan seperti apa cinta pertama...

Hari Senin, hari pertama orientasi siswa baru. Dan aku sudah hampir dihukum karena lupa membawa topi untuk upacara bendera. Dengan gugup aku mengobrak-abrik isi tasku berharap menemukan keajaiban berwujud topi yang akan menyelamatkanku dari ancaman dijemur setengah hari. Rombongan putih-biru sudah mulai membentuk barisan di ujung lapangan, dan aku dengan sadar diri melangkahkan kaki ke lapangan basket, tempat anak-anak yang melanggar peraturan harus berdiri sambil diceramahi guru BK soal disiplin diri.
Tiba-tiba ada yang menghalangi jalanku. Sambil mendongak, kulihat seorang anak lelaki tersenyum memamerkan gigi putihnya. “Kamu tidak bawa topi, ya?”.
Aku mengangguk.
Anak itu mengelus-elus janggut lancipnya, “Ini, pakai saja”, katanya seraya mengulurkan topi lalu beranjak pergi.
“Terus kamu bagaimana?”
Dia hanya melambaikan tangan bahkan tanpa menoleh.
Pagi pertamaku di SMA, saat temanku yang lain sibuk mencari tanda tangan guru dan kakak kelas, aku justru kebingungan mencari sosok tinggi berdagu lancip dengan senyum manis, yang topinya sedang kudekap erat di dada.

......

“Nda, kelasmu!”, Tata, teman sekelompok ospekku berteriak seraya menunjuk ruang kelas di sebelahnya.
“Aduh, terima kasih ya, Ta. Aku pikir aku tidak dapat kelas”
“Itu mejamu”
Kuhampiri meja yang ditunjuk Tata.
Kutemukan namaku tertulis di selembar kertas yang ditempelkan di bawah kursi. Kuedarkan pandangan dan yang kutemukan adalah wajah-wajah baru.
“Hei, Bon! Mejamu di sini!”, seseorang berteriak lantang. Anak yang dipanggil itu memasuki kelas. Langkahnya disetel dengan gaya preman pasar, seolah melegitimasikan dirinya sebagai calon penguasa kelas. Dan meski jaket parasut biru-kuning itu terlalu besar untuk tubuh cekingnya, tapi tatapan tajam dan dagu lancipnya yang terangkat membuatnya mudah untuk disegani.
Ah, dagu lancip. Itu dia yang sedari tadi aku cari. Ternyata kami sekelas. Kuikuti langkahnya dengan ekor mata. Dia berhenti di mejanya dan kuhampiri dia.
“Ini topi kamu. Terima kasih banyak”. Kuangsurkan topi penyelamat itu ke hadapannya.
“Eh kamu, kita sekelas ya?”
“Maaf ya, jadi membuatmu dihukum”
“It’s okay”, sahutnya sambil tersenyum.
“Bonaaa....kita sekelas! Asiiikkk...”, serombongan gadis cantik, yang akan disebut ibuku sebagai ‘cewek masa kini’, menghampiri dan mengelilinginya. Tanpa perlu aba-aba aku mundur teratur.
Paling tidak aku sudah dapat namanya. Bona. Dan inilah yang disebut inkompatibilitas nama. Penampakan gali tapi nama seperti tokoh gajah kartun di majalah anak.
Aku kembali ke mejaku. Tiga langkah jauhnya namun serasa dibatasi membran strata. Dia, kaum populer dan aku yang kehadirannya antara ada dan tiada.

......

“Dit, tukar”, hanya dengan sekali tunjuk, Radit si ketua kelas culun dengan kerelaan kaum tertindas, merelakan posisi strategisnya untuk Bona. Meja samping jendela, memberinya akses tak terbatas ke luar kelas, ke jalan sempit yang sering dilewati anak-anak perempuan yang hendak ke mushola.
“Nda, boleh pinjem tugas kamu?”, Bona tersenyum manis manja ke arahku.
“Aku?”, aku menunjuk diriku sendiri, bingung.
“Iya, kamu”
“Kok kamu tahu namaku?”, aku masih bingung.
“Apa sih yang aku tidak tahu tentang kamu? Hehe, bercanda. Itu teman kamu sering memanggilmu, Nda Nda. Ngomong-ngomong, Nda itu kepanjangannya apa? Panda ya?”
Aku mendengus, “Manda.”
“Oh, Manda. Aku Bona”, dia mengulurkan tangan dan kami bersalaman.
Pagi itu, hari kedua kami di SMA, perkenalan kami ditutup dengan dia yang duduk di meja samping jendelanya, asik menulis salinan tugas yang kudiktekan kepadanya.

......

“Dasa Dharma Pramuka saja kamu tidak hafal?! Kamu Bodoh ya??”, kakak senior pembina Pramuka berteriak tepat di depan wajah Bona. Dahinya berkerut manakala air liur si senior menerjangnya.
“Iya kak! Saya memang bodoh! Makanya saya sekolah!”, balas Bona dengan kelantangan dan semburan air liur yang sanggup membuat si senior mundur selangkah. Aku yang mengawasi dari tempatku berbaris terkikik geli.
“Kamu kenapa cekikikan, dek?? Sok cantik! Cepat maju ke sini kamu!”, senior lain membentakku dan membuatku gelagapan. “Cepat sekarang kamu merayu pohon sampai pohonnya bergerak!”, bentak senior itu lagi.
Aku melongo sesaat. Barisan kelompok Bona lewat di depanku. Dan saat aku sedang memikirkan rayuan apa yang bisa membuat pohon bergerak, kulihat Bona tersenyum sambil mengangkat kepalan tangan ke udara. Mulutnya melavalkan kata ‘semangat’ tanpa suara.
Kelak, saat aku berkumpul dengan teman-teman SMAku dan mengenang hal-hal paling membekas di hari penggojlogan itu, maka aku akan bercerita tentang bagaimana aku merayu pohon palem dan mencoba membuatnya bergerak.
Teman-temanku tidak pernah tahu, bahwa yang sesungguhnya paling membekas bagiku adalah saat Bona dibentak, “Ganjen kamu! Pakai acara menyemangati pacarmu segala!”, dan dibalas Bona dengan, “Semangat, hun!”, sambil melambai ke arahku. Mereka tidak tahu bahwa yang paling membekas bagiku adalah saat kami berdua dihukum ‘menyanyikan lagu balonku ada lima sambil menari balet’, dan bagaimana bulu kudukku berdiri tiap kali Bona diam-diam tersenyum ke arahku dan berbisik, “Semangat ya hun”, dan kemudian terkikik geli.

......

Bona adalah lelaki paradoks pertama yang kukenal. Apa yang nampak dan orang lain bisa lihat tak pernah merepresentasikan dia yang sesungguhnya.
Kecuali matanya.
Matanya adalah gumpalan beku bola salju saat dia menatap teman lelaki yang membuatnya sebal. Namun seketika meleleh menjadi hamparan oase teduh dan sejuk saat dia berhadapan dengan teman perempuannya.
Dia bisa berbicara kasar dan bertengkar layaknya remaja biasa. Namun suaranya sehangat dan semanis teh madu saat berbicara tentang keluarganya. Bona tak segan berkelahi, namun matanya akan berkaca-kaca bahkan hanya dengan melihat seorang ibu yang memeluk anaknya. Dia melahap komik-komik Slam Dunk dan mungkin beberapa majalah dewasa, tapi tetap saja doyan menonton drama Korea.
‘Kamu itu seperti gelas kristal”, kataku padanya suatu waktu.
“Kok bisa?”
“Kelihatannya angkuh, kuat dan berkilau. Tapi sekali banting...”, aku menggerakkan tangan dramatis, “Pyaarr...pecah. hancur tak tertolong.”
Dia terkekeh, “So, please, jangan pernah banting aku.”
Bona punya satu kegemaran. Duduk di samping jendela. Sejak kelas satu hingga kelas tiga dia selalu memilih meja di samping jendela. Hampir di setiap waktu senggang dan tak senggangnya dia akan melayangkan pandang ke luar jendela. Jika begitu, dia seolah terbungkus selaput yang menjaganya tetap berada di dunia sureal ciptaannya.
Aku pernah bertanya, “Lihat apa?”
“Yang tidak kamu lihat”, jawabnya.
“Anak-anak cewek I-7 habis olahraga ya?’
Dia tergelak, “Itu juga.”
“Aku sedang lihat itu”, Bona menunjuk ke luar jendela, ke arah Pak Jum, penjaga sekolah kami, yang sedang bercanda dengan istrinya.
“Bagiku itu romantis dan bikin pengin nangis”, matanya menerawang. “Aku kelihatan lemah, ya? Seperti itu saja bisa bikin nangis”
“Sentimentil tidak sama dengan lemah, Bon. Kamu begitu karena kamu punya empati besar. Kamu peka pada emosi di sekitarmu.”
Dia tersenyum, matanya yang teduh memancar hangat. “Thanks for saying that
Dari situ aku tahu, anak lelaki di samping jendela itu bukanlah remaja lelaki pada umumnya.

......

Who knows how long I’ve loved you
You know I love you still
Will I wait a lonely lifetime
If you want me to I will
Tak perlu mesin waktu, beberapa orang hanya perlu mendengarkan sebuah lagu untuk bisa kembali ke masa lalu. Aku salah satunya. Ada yang bilang, tak peduli apapun yang berubah darimu, sebuah lagu akan selalu sama, termasuk kenangan yang dibawanya. Dan hanya dengan mendengar I Will-nya The Beatles aku tahu itu benar.
Lagu itu membawaku kembali ke lorong kelas, tempat aku mengamati Bona duduk dan bersenda gurau dengan geng populernya. Ke kantin 2, tempat aku melihatnya melahap nasi bakmoy favoritnya. Ke lapangan basket, tempat dia bertanding dan aku jadi pemandu sorak yang menyemangatinya tanpa suara. Atau ke meja di samping jendela, tempat tatapanku selalu terpaku dan tak mau diajak berlalu.

......

Aku tidak suka makan permen. Setidaknya sampai aku makan lolipop dari Bona.
Suatu siang, sehabis istirahat, aku masuk kelas saat Bona dikerubuti para gadis. Aku menyeruak di antara mereka dan kulihat Bona sedang membagi-bagikan permen.
“Aku mau!”, seruku.
Bona mengangkat kedua tangannya. “Yah, habis Nda. Maaf, ya.”
Aku mendengus kecewa.
“Eh, tunggu sebentar.” Bona merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebatang lolipop merah jambu.
“Ini buat kamu.”
Aku diserang “Huuu...” serempak dari para gadis yang kubalas dengan mengangkat lolipop itu bak piala kejuaraan.
Dan walaupun sejak saat itu aku jadi menggemari lolipop merah jambu seperti yang Bona beri, namun tak pernah kurasakan lolipop seenak lolipop dari Bona.
Lolipop rasa cinta.

......

“Kok belum pulang?”, tanyaku pada Bona.
Kelas sudah kosong, hanya ada Bona yang duduk di samping jendela, memandang ke arah barat.
Bona menggeleng.
“Senjanya baguskah?”, tanyaku.
Dengan isyarat dia menyuruhku mendekat.
“Kok kamu tahu kalau aku sedang melihat senja?”, digesernya kursi agar aku dapat duduk di sebelahnya.
“Apa sih yang aku tidak tahu tentang kamu?”
Kami berdua tergelak.
“Bagus ya?”, tanyannya lirih.
Aku melongokkan kepala dan tampaklah sepetak langit berwarna jingga-merah muda-keemasan.
“Hu-um”, hanya itu jawabanku.
“Kamu belum jawab pertanyaanku tadi”
“Perasaan aku sudah bilang hu-um”
“Pertanyaan pertamaku tadi, Nda. Kok kamu tahu kalau aku sedang melihat senja?”
“Karena hanya sesama sentimentil yang bisa memahami orang sentimentil.”
Bona memasang ekspresi maksud-kamu-apa.
“Hampir semua orang sentimentil suka melihat senja”, lanjutku. “Kamu”, aku menunjuknya, “adalah raja sentimentil. Sore-sore begini menghadap arah barat, mata menerawang, apalagi kalau tidak melihat senja?”
“Kenapa orang sentimentil suka melihat senja?”, dia bertanya.
“Entahlah. Mungkin karena senja itu seperti kita. Sukar dideskripsikan dengan kata-kata.”
Dia tersenyum. Matanya kembali menerawang. Kutatap wajahnya dari samping dan menemukan bahwa sinar matahari sore sangat cocok dengan senyumnya.
Orang mungkin tidak tahu, indahnya senja bukan soal warna, melainkan soal dengan siapa kita melihatnya. Dan hingga detik ini, aku belum pernah melihat senja yang lebih dari indah daripada senja yang kulihat sore itu bersama Bona.

......

Ada satu dialog dalam film yang akan kuingat selama hayat dikandung badan. Bunyinya seperti ini, ‘Memendam rasa cinta adalah jalan tercepat menuju patah hati’. Andai aku tahu siapa yang menciptakan kalimat itu, pasti sudah kujabat tangannya. Selamat, anda benar.
Dulu, kusangka tak ada yang lebih mengenaskan daripada nilai 2 dalam ulangan fisika. Dulu, sebelum aku jatuh cinta diam-diam dan tak berani bilang. Dan jika itu belum cukup mengenaskan, hari itu adalah sisa yang menggenapinya.
Minggu terakhir tahun pertama kami di SMA. Sore yang sepi, halaman depan gedung induk telah lengang. Hanya ada suara dari potongan percakapanku dengan beberapa teman yang belum pulang.
“Nda, aku pulang dulu, ya”, Tata yang duduk di sebelahku tiba-tiba beranjak dari duduknya.
“Pulang sama siapa, Ta?”, tanyaku.
“Pacar dong”, celetuk Ade, teman sekelasku, pelopor gosip terdepan dan terpercaya.
Tata mengulum senyum. “Calon”, katanya mengoreksi.
“Ih, punya gebetan kok nggak cerita sih, Ta? Yang mana orangnya?”, tanyaku.
“Tuh!”, Ade mengendikkan kepala ke sosok yang berjalan ke arah kami.
Dulu, jika orang ini berjalan, aku otomatis akan membayangkan dia adalah bintang utama sebuah film yang muncul dalam suatu adegan dengan slow motion dan intro Beautiful Ones milik Suede sebagai musik latarnya.
Namun sekarang, saat dia berjalan dengan gaya pongahnya dan angin panas bulan Mei mengibaskan jaket parasut biru-kuning yang kebesaran, satu-satunya musik latar yang terbayang di benakku adalah Layu Sebelum Berkembang.

......

Tahun pertama kami di SMA telah usai. Demikian juga dengan kisah cinta pertamaku.
Bona dan Tata ternyata tak pernah resmi menjadi sepasang kekasih. “Hanya euforia PDKT”, begitu kata Ade. Kudengar kemudian beberapa gadis hilir mudik di kehidupan cinta SMA Bona.
Aku? Aku masih setia bersliweran di lororng demi melihatnya nongkrong dengan teman-temannya. Masih setia menjadi pemandu sorak yang menyorakinya lewat doa di setiap pertandingan basketnya. Dan karena kami tak lagi satu kelas, adakalanya aku mengunjungi kelasnya dengan alasan meminjam buku dan sebangsanya. Akan kuamati meja di samping jendela tempat dia berada dan jika beruntung, seulas senyum hangat itu akan menjadi bingkisan bagiku.

......

Spanduk selamat datang para alumni menyambutku saat kulangkahkan kaki memasuki halaman SMAku. Ada yang menghangat di dalam dada saat serangan nostalgia menyerbu ingatanku. Gerbang, lapangan, gedung induk, pos satpam. Ah, masa-masa itu.
Atas nama sentimentalitas, kukulum lolipop merah jambu yang sedari tadi tersimpan di saku celana. Banyak tahun telah berlalu dan aku tahu aku tak perlu berharap akan berjumpa Bona.
“Mbak, pembukaannya di lapangan, ya”, seorang anak bername tag panitia mennghampiriku.
“Oke, terima kasih”, jawabku lalu memutar langkah menuju lapangan.
Masih jam setengah delapan pagi, namun matahari sudah bersinar terik, membuatku memilih berjalan sambil menunduk. Aku berhenti saat tiba-tiba sebuah bayangan melingkupiku dan menghalau silau.
Aku mendongak.
Waktu mungkin bisa merubah banyak hal termasuk perasaan. Namun kali ini waktu ternyata tak mampu mengubah dagu. Laki-laki yang berdiri di hadapanku tersenyum dan walau wajahnya tak begitu terlihat jelas karena silau tapi dagu legendarisnya itu membuatku langsung mengenalinya.
“Kamu tidak bawa topi?”, dia bertanya. “Pakai ini.”
Aku tersenyum dan menerima topi yang disodorkannya.
Lapangan SMA pagi itu. Dua teman lama berjalan beriringan, seru bercerita. Salah satu dari mereka bercerita banyak tentang keluarga. Yang lainnya cukup mendengarkan dan sesekali tertawa.
Tak ada yang tahu kalau hatinya tak lagi di situ. Sudah dilarikan dari dunia nyata dan kini duduk di sebelah anak lelaki di samping jendela.


Semarang, Juli 2013
Pro: Shirom