Wanita Yang Memunggungi Dunia



Angin pantai sore ini terasa lebih menggigit daripada sore-sore yang telah lalu. Bulan Januari yang dingin dan basah memang bukan saat yang tepat bagi orang-orang untuk piknik di pantai. Tapi bukan untuk itu aku datang ke sini.

Kuparkir sepedaku di bawah pohon palem yang ditanam pengelola resort mewah di belakangku. Aku bergegas menyusuri pasir pantai yang sedikit basah dan mendapati yang kucari ada di tempat biasanya dia berada. 

Hari ini sengaja kubereskan pekerjaanku cepat-cepat dan pulang lebih awal. Hanya supaya bisa mengobrol dengannya lebih lama. Angin berhembus kencang mengibarkan syal merah yang melilit lehernya.

Kurasa dia menyadari kehadiranku karena dia berkata, “Kamu datang lebih cepat, sepertinya”, bahkan sebelum aku duduk di atas pasir dingin di sebelahnya. “Pekerjaanku tidak banyak hari ini”, sahutku. Dia tersenyum. Kuamati wajahnya dari samping dan aku menyadari hari ini dia terlihat lain.

“Kamu berdandan?”
Dia tertawa keras. “Apakah terlalu tebal? Aku terlihat aneh ya?”
Aku menggeleng, lalu buru-buru menjawab, “Ah, tidak kok”, dan dia kembali tertawa. Kali ini, tawa kerasnya disamarkan debur ombak.

“Jadi, bagaimana harimu? Bagaimana pekerjaanmu? Anak lelaki yang kamu sukai itu, apa yang dia lakukan hari ini?”, matanya bersinar dipenuhi antusiasme yang entah mengapa membuat hatiku menghangat. Inilah mengapa aku suka sekali mengobrol dengannya. Dia mendengar semua ceritaku dengan antusiasme yang terasa tulus.

Aku menatap awan kelabu yang menggantung di atas kami.
“Bagaimana kalau seperti ini, kau yang bercerita padaku tentang harimu. Selama ini aku yang selalu berceloteh tentang hari-hariku dan kamu belum pernah sedikitpun. Sekarang giliranmu, kamu yang bercerita kepadaku”.

Dia terdiam. Bibirnya terkatup rapat seolah enggan membiarkannya terbuka dan membeberkan semua hal yang mungkin disimpannya.

“Aku tak pernah bercerita pada siapapun”, bisiknya perlahan. Kurasakan suaranya bergetar.
“Kenapa?”
“Karena tak ada yang memintaku untuk bercerita”
“Kadang kita tak perlu menunggu orang lain meminta untuk sekedar bercerita”
“Apakah kamu berpikir orang-orang akan mendengarkanku jika aku bercerita tanpa diminta?”
Aku hampir berkata ‘Tentu saja!’ saat akhirnya kuurungkan dan kutelan kembali kata-kata itu.
Angin pantai mendingin dan dia merapatkan jaket wol yang membungkus badan kurusnya.

“Aku hidup sendiri. Itu berarti hidupku sulit. Aku tak punya keluarga dan semua orang yang kutemui selalu memunculkan pertanyaan serupa, ‘Apakah dia tulus?’. Dan karena tak ada yang memberitahu jawabannya kepadaku, aku tak bisa melakukan hal lain selain memagari hidupku. Siapa lagi yang bisa kamu andalkan untuk menjagamu saat kamu sendirian selain dirimu sendiri?”

Aku terdiam, kebingungan. Agak lama kucerna kata-katanya, namun aku masih tak paham. Namun alih-alih menuntut penjelasan atas pernyataannya, aku justru berkata, “Baiklah kalau begitu. Tolong berceritalah kepadaku. Mungkin bisa dimulai dengan, mengapa kamu berdandan hari ini?”

Semula terasa canggung, namun beberapa saat kemudian kudapati aku duduk dengan siku bertumpu pada lutut di sebelah wanita yang dari mulutnya mengalir lancar ribuan cerita dengan genre yang berbeda-beda. Rasanya seperti membaca buku hariannya. Satu hal yang baru saja kuketahui dari orang yang bahkan tak kusangka memiliki cerita yang sedemikian menariknya ini adalah, dia sangat pandai bercerita. Aku tertawa, aku berlinang air mata, aku marah dan kecewa dalam satu sesi curahan hati di sore mendung itu. 

Ceritanya membawaku ke dalam kehidupannya. Dia bercerita bagaimana kedua orang tuanya meninggal dan dia tak punya saudara, bagaimana dia hidup sendirian dengan mengandalkan belas kasih orang lain dan dia benci itu. Dia mengeluh karena orang menganggapnya rapuh, namun ada masa ketika dia begitu ketakutan tanpa alasan. Dia memberitahuku tentang mimpi dan harapan-harapan yang disusunnya. Dia bahkan memberitahuku apa makanan dan lagu-lagu kesukaannya. Dia bilang, hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Oleh karena itulah dia berdandan. Dia berharap ibunya melihat dia bisa tampil cantik walau mungkin saja tidak, jadi dia meminta seseorang untuk mendadaninya. 

Langit menggelap namun aku merasa sangat tidak ingin ceritanya berakhir.
“Pertanyaan ‘apa dia tulus?’ itu, apakah juga terlontar di benakmu saat pertama kali bertemu denganku?”, tanyaku saat dia berhenti bercerita.
“Pada awalnya”, jawabnya berterus terang.
“Kemudian?”
“Kemudian pertanyaan itu berganti menjadi ‘apakah aku akan bertemu dia hari ini?’, ‘punya cerita apa dia kali ini?’”, dia melanjutkan, “Kemudian aku tak peduli lagi apakah kau tulus atau tidak karena aku menyukaimu. Aku senang saat kau menemaniku di sini dengan ceritamu. Aku suka caramu memandang dunia. Caramu menikmatinya”.
Aku terdiam.
“Dunia tidak ramah bagi orang-orang sepertiku. Dan memiliki dunia yang begitu menyenangkan meski hanya lewat ceritamu, rasanya seperti, uhm, entahlah, aku tidak tahu namanya”.
Hatiku kembali menghangat karena kata-katanya yang begitu mengena. Tak kusangka hidupku yang sederhana dan membosankan ini bisa menyentuh orang lain. 

Beberapa orang terbangun di pagi hari dan memulai  hari baru, seolah ini adalah hari pertama mereka dilahirkan. Beberapa yang lain bangun dan menjalani hari seperti hari-hari kemarin, mereka pikir hari bahkan tidak berganti. Dan wanita di sampingku ini, aku tak mengerti dia masuk kategori yang mana. Hidupnya adalah paduan antara masa lalu yang membelenggu dan hal-hal baru yang dipelajari dalam kesendiriannya. 

“Mengapa setiap hari kamu datang ke pantai ini?”
“Kamu sendiri kenapa setiap pagi dan sore selalu mampir ke tempat ini?”, balasnya.
“Aku senang melihat matahari terbit dan tenggelam”, jawabku.
“Apa kamu tahu mengapa aku selalu duduk menghadap ke barat saat pagi dan menghadap timur saat matahari tenggelam?”, tanyanya sambil menulis sesuatu di atas pasir.
“Ehm, karena silau?”, jawabku asal.
Dia tertawa.

“Jika kamu melihat matahari, maka aku memunggunginya”, tahu aku hanya terdiam dia lalu melanjutkan, “Orang-orang bilang matahari terbit dan tenggelam itu indah. Tapi apa peduliku? Aku tak bisa melihatnya”, katanya sambil mengacungkan tongkat alat bantu jalan dalam genggamannya.
“Ada sesuatu yang menyebalkan saat aku tahu matahari terbit. Itu berarti hari baru datang lagi namun aku masih sama seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi. Sendirian. Aku sebal karena aku hidup dan harus bertahan hidup lagi”.
“Dan saat matahari tenggelam, aku merasa ada sesuatu menyesaki dadaku. Ketakutan. Aku takut aku tidak akan berjumpa lagi dengan esok hari. Aku takut aku mati setelah ini dan tak bisa melanjutkan hidupku lagi”.
“Jadi aku memunggungi matahari. Memunggungi dunia. Memunggungi ketakutanku sendiri”.
Dia tertawa sumbang.
“Aku aneh kan?”, tanyanya masih sambil tertawa.
Aku ikut tertawa, “Teraneh dari yang paling aneh”.
Aku berdiri dan menepuk pantatku yang ditempeli pasir.
“Sudah gelap. Kamu harus pulang”, aku membantunya berdiri.
“Besok aku libur, kita bertemu di sini saat matahari terbit. Dan aku ingin kau berdandan lagi”, kataku sambil mengangsurkan tongkat berjalannya ke dalam genggamannya.
“Untuk apa?”, dia bertanya.
“Untuk menghadapi dunia”
Kulihat dia mengerutkan dahi.
“Aku baru sadar, selama ini aku menemanimu memunggungi dunia. Mulai besok akan kutemani kau menghadapinya”.

Angin pantai berhembus menampar wajahnya yang dihiasi senyum lega. Kami berjalan beriringan sambil menyusun rencana apa saja yang biasa orang-orang lakukan untuk menghadapi dunia.

Late Dinner

"Nasi ruwet Pak Pino", Yosa mengangsurkan bungkusan beraroma menggoda di depan wajah Rosa.
"Aku gak lapar"
"Kalau begitu, aku numpang makan"
Rosa memutar bola matanya, "Nggak punya tempat makan sendiri, ya?"
"Nggak punya teman buat nemenin makan, tepatnya"
"Teman-temanmu kemana?"
"Kamu kan tahu, temanku hanya kamu"
Rosa mengeluarkan dengusan bernada geli sekaligus sebal.
"Seenggaknya persilakan aku masuk kenapa sih, Cha? Tinggal kasih aku map, sudah mirip orang minta sumbangan ni"
"Persilakan persilakan, memangnya kamu Sri Sultan harus pakai acara dipersilakan segala. Orang minta sumbangan juga nggak sekurang kerjaan kamu, selarut ini numpang makan di tempat orang", sahut Rosa jutek namun tak urung dia menyingkir dari pintu dan memberi jalan untuk Yosa masuk.
Yosa duduk di atas lantai kamar kos Rosa yang lapang dan menyelonjorkan kakinya. Melihat sang empunya kamar masih berdiri di dekat pintu sambil bersedekap, Yosa pun mengambil sikap duduk lebih serius lalu mendongakkan kepala, memandang Rosa lekat-lekat.
"Aku minta maaf. Aku tahu tidak seharusnya aku menyalahkan kamu seperti yang kulakukan tadi"
Rosa mencibir.
Aku cuma mau bagi-bagi tanggung jawab. Masalah produk pending nggak bisa hanya jadi tanggungan satu orang saja. Ngomong-ngomong, duduk boleh lho, Cha", Yosa menepuk-nepuk kasur di sisi kirinya.
Rosa mendesah lalu beranjak dari posisi berdirinya dan duduk di tepi tempat tidur.
"Tapi tadi itu kamu nggak berbagi, kamu menyalahkan aku. Kalau kamu kirim memo internal lebih awal dan formula kamu beres, aku juga nggak akan selambat ini validasinya" kata Rosa tajam.
"Errghh...", Yosa menggaruk-garuk rambutnya, "Ocha, kurang puas ya kamu kerja 10 jam lebih? Kalau aku sih sampai eneg malah. Jadi please bisa gak kita bahas kerjaannya besok pas jam kerja saja? Piring dong Cha, lapar banget"
"Ini nih yang aku sebel banget dari kamu", dengan enggan Rosa bangkit dari tempat tidur, mengambil piring dan menyodorkannya tepat di depan hidung Yosa, "Selalu mengalihkan pembicaraan di moment yang nggak oke. Ini tuh semacam aku sedang di kamar bersalin, heboh mengejan dan pas kepala si bayi hampir nongol kamu tiba-tiba teriak 'Eh, ada piring terbang lewat tuh, Cha!'. Bikin emosi banget"
Yosa terdiam, piring yang dipegangnya menggantung di udara.
"Kenapa bengong?"
"Eng, aku hanya bingung dengan konsep kamu, aku dan bayi di kamar bersalin"
"Itu tadi hanya analogi, Yos", sahut Rosa sewot sambil melengos.
"Analogi yang aneh" gumam Yosa.
“Terus, tadi kenapa pakai acara menyalahkan aku di depan Linda sih? Sok membela dia lagi. Kamu kan tahu dia itu, ah sudahlah”
“Sainganmu?”
Rosa mencebik.
“Bukan saingan ah. Jelek bener istilahmu. Apa ya? Rival lebih cocok”
“Sama saja dong, Rosa sayang”
“Seenggaknya lebih terdengar profesional. Aku sebel, kamu jadi nggak obyektif begitu hanya gara-gara disodori paha Linda. Mending kalau mulus.”
Yosa terkikik geli.
“Oke, kalau topiknya hanya soal cemburu, boleh kan ngobrolnya sambil makan?”
“Aku nggak cemburu, Yos!”, sergah Rosa.
“Huh, nggak cemburu kok sewot?”, dengus Yosa.
“Susah memang ngomong sama kamu, Yos”
“Kamu pikir nggak susah apa ngomong sama kamu?”
Keduanya terdiam saat rasa jengkel mulai menguar dalam diri masing-masing. Pembicaraan dua teman lama ini selalu memakan setumpuk kesabaran.
Yosa yang pertama kali mengendurkan emosinya, menghela nafas panjang lalu membuka bungkus nasi gorengnya. Kamar Rosa mendadak dipenuhi aroma menggiurkan. Mau tak mau Rosa melirik ke arah gumpalan nasi yang masih mengepulkan asap.
"Kalau kepingin bilang aja lho, Cha. Gak usah gengsi"
Rosa kembali melengos.
"Yaudah, makan saja tu gengsi. Aku sih nggak doyan"
Rosa bangkit dan kini duduk di hadapan Yosa dan memandangnya dengan wajah serius.
"Sudah kuduga, kamu malem-malem datang kesini hanya untuk bikin aku jengkel. Cepat habisin makananmu," Rosa mengendikkan kepala ke arah nasi goreng Yosa, "setelah itu pulanglah"
"Galaknyaaa..."
"You have ruined my day. You should leave before you ruin my life. Okey?"
Yosa mendadak menghentikan suapannya.
"I never mean to ruin your day, moreover your life", nadanya berubah serius, "Tahukah kamu, kata-katamu tadi, tak peduli kamu serius atau bercanda, nancep banget lho, Cha."
Yosa menggeser duduknya hingga lututnya menyentuh lutut Rosa. Matanya menatap lekat gadis yang entah mengapa selalu berhasil membuat emosinya naik turun tak terkontrol. Dan dia benci itu.
"Rosa, kita sudah kenal 6 tahun lebih, dan selama itu isinya hanya konfrontasi melulu. Apapun topik pembicaraan kita, ujung-ujungnya selalu perang urat. Kamu nggak capek?"
Rosa menangkap nada jenuh dalam kalimat yang diucapkan Yosa. Satu hal yang tak pernah terlintas di benaknya, bahwa lelaki yang dia anggap paling keras kepala di dunia ini bisa juga merasa lelah.
"Sekali aja kita damai bisa nggak sih?"
"Untuk apa berdamai kalau kita juga nggak pernah musuhan, Yos?"
"Kalau begitu berhentilah bersikap ofensif, oke?"
"Aku nggak ofensif. Kamu tuh yang nyebelin"
Yosa berdecak tak sabar.
"Kamu emang jago bikin orang jengkel. Tapi tetap saja, I can't live without you. Hampa hidupku tanpa tokoh antagonis", kata Yosa sambil melanjutkan makannya.
Rosa mendengus, tangannya menggapai plastik bungkus nasi goreng yang teronggok di depannya.
"Apa-apaan ni? Kok tinggal kerupuk? Mana nasi gorengku?"
Yosa nyengir, "Aku kan nggak bilang aku membelikanmu nasi goreng. Lagipula tadi kamu bilang nggak lapar. Kenapa sekarang nyari-nyari?"
Buuuk. Sebuah boneka beruang menghantam kepala Yosa. "Dasar kumpeni pelit!"
"Nih, kata orang tua, makan sepiring berdua itu romantis", kata Yosa sambil menyodorkan piringnya. "Perlu aku suapi?"
Rosa mecibir, namun entah apa yang mendorongnya, dia membuka mulut dan menerima suapan Yosa. Yosa mendengus geli, betapa gadis jutek dan keras kepala ini bisa luluh hanya dengan sedikit adegan norak ala film korea semacam disuapi.
"Haaah...pedes bangeeet, Yos. Kamu kan tahu aku nggak suka pedes. Mau meracuni aku ya?", Rosa megap-megap. Diteguknya segelas air putih namun pedasnya tak juga hilang.
"Kamu mau tahu cara paling ampuh menyembuhkan kepedesan?"
"Ambil sikap lilin? Nungging sambil berhitung? Lompat kodok sambil nyanyi? Nggak! Idemu kan aneh-aneh"
"Kali ini nggak aneh, Cha. Serius"
"Oke. Terus bagaimana?", Rosa masih megap-megap.
Yosa menatap mata Rosa lekat-lekat. Dan sejurus kemudian tanpa terduga, bibir Yosa sudah mendarat lembut di bibir Rosa. Tak siap akan serangan mendadak itu, Rosa membeku. Matanya membelalak, nafasnya tertahan. Beberapa detik berlalu dan saat Yosa menjauh, Rosa merasa seperti anak kecil yang dirampas mainannya.
Saat Rosa tak kunjung mengucapkan sepatah kata pun, Yosa mendadak terserang panik. Betapa tindakan spontannya tadi bisa berujung masalah.
"Cha, sori. Aku tadi cuma...", Yosa tak melanjutkan kata-kata demi melihat tatapan Rosa yang tak terbaca.
"Oke. Aku salah. Silakan cubit aku, tendang atau pukul aku sesukamu. Tapi please jangan diam saja"
"Oh, tampar saja. Itu kan yang biasa dilakukan cewek-cewek di film korea saat ada cowok mencium mereka?" Yosa menyodorkan pipinya.
Bersiap menerima sakitnya tamparan Rosa, Yosa justru terkejut saat tiba-tiba,
"Cup", pipinya dikecup.
Yosa membuka mata kaget dan melihat Rosa menunduk malu. Pipinya bersemu.
"Cha..."
"Tadi adalah cara mengobati kepedesan yang paling asik” Rosa mengulum senyum.
“Jadi, masih nggak suka pedes?” Yosa tersenyum geli.
“Nggak. Asal kamu selalu ada untuk mengobatinya”
Yosa meraih tangan Rosa, “Pasti. Aku pasti selalu ada”
Keduanya tertawa penuh pemahaman tanpa kata.
“Tapi orang kantor pasti...”
“Bisa nggak kita ngomongin soal kantor lain kali saja”, potong Yosa, “Kamu sepertinya masih kepedesan tuh”.

Surat Cinta


Aku tak ingat, kapan tepatnya kita berjumpa. Kapan aku melihat engkau untuk pertama kali. Kapan engkau memanggil namaku. Aku tak ingat bagaimana aku mengenalmu, atau seperti apa pertemuan kita yang pertama. Yang kuingat adalah bahwa kaulah yang pertama kali kusebut saat aku merasa takut. Kaulah yang pertama kali kurindukan saat aku kesepian.

Aku ingat, wangimu adalah penghantar tidur paling manjur. Walau kau selalu bernyanyi dengan nada yang salah dan lirik yang keliru, namun suaramu  adalah kehangatan abadi yang selalu membuatku rindu. Aku ingat, boneka pertama yang kau belikan untukku. Boneka biru yang kuminta setengah merajuk, dan kau mengalah tak jadi membeli bedak karena aku tak mau pulang tanpa boneka itu. Aku juga ingat, kau membelikanku piano mini merah jambu dan mengajariku memainkan lagu Ibu Kita Kartini sambil bernyanyi. Aku mencorat-coret kertas-kertas kerjamu dan kau hanya berkata, ‘Wah, sudah bisa menulis ya. Hebat!”, sambil mengacungkan ibu jari.  
Saat aku remaja, labil dan penuh emosi, kau tak pernah berhenti bersabar untuk memahami. Nasehat yang kuabaikan, permintaan yang kutolak, kau jawab dengan ‘Ya sudah, tidak apa-apa’. Kau tidak pernah mengajariku untuk menjadi sempurna karena bagimu aku adalah kesempurnaan yang pernah kau punya. Kau tak pernah menuntut apapun karena satu-satunya yang kau harapkan dariku adalah agar aku sehat dan bahagia.

Saat aku harus pergi jauh dari rumah kau bilang ‘Rasanya seperti ada yang tersedot keluar’, namun kau tak melepasku dengan air mata seperti di film drama karena kau tahu aku mampu menjaga diri. Kau berkali-kali bertanya kabar yang kuanggap berlebihan tanpa aku tahu bahwa khawatir itu ternyata menyakitkan. Kau sering bilang aku mirip bintang korea, padahal jelas-jelas itu khayalanmu saja. Kau juga satu-satunya orang yang menganggap aku kurus bahkan saat berat badanku naik beberapa kilo. Bagimu, akulah gadis tercantik yang pernah ada di dunia.

Kau pernah marah padaku, tentu saja. Saat aku tidak mau makan, saat aku bermain-main dengan pisau dapur, saat aku kelayapan sepulang sekolah, saat aku mengunyah kapur barus karena kusangka permen. Namun aku lupa bagaimana kau marah, karena ketika aku beranjak dewasa kau tak pernah melakukannya lagi. Bagimu aku sudah besar dan tahu mana yang berbahaya dan tidak untuk diriku. Suatu saat kau menyuruhku tidur siang dan aku tak menghiraukanmu. Kau marah, aku balas marah padamu lalu pergi bermain ke rumah tetangga. Aku pulang dengan jempol kaki berdarah-darah karena tersandung meja tetangga. Kukira kau akan menyalahkanku, namun ternyata kau hanya tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa, jangan menangis”, lalu kau mengobati lukaku dan memelukku hingga aku berhenti menangis.

Aku tahu, aku tak pernah menuruti nasehatmu yang selalu menyuruhku membawa payung saat hari-hari mendung, namun kau lah orang yang kurepotkan saat aku jatuh sakit. Kau selalu mengingatkanku ‘Jaga kesehatan, jangan lupa makan’, tapi aku jarang peduli apakah kau sudah makan, apakah kau sakit atau kurang enak badan, lelahkah kau setelah seharian bekerja, apakah kau ingin makan sesuatu atau pergi ke suatu tempat yang kau impikan.

Aku takut menangis di depanmu, karena jika kau tahu aku terluka, kau pasti akan menangis lebih keras. Saat aku mengalami masa-masa sulit, wajahmu yang selalu kuingat dan membuatku kuat. Saat aku lebih dewasa dan tahu bagaimana rasanya kecewa, aku sadar betapa sulitnya mencintai tanpa pamrih, seperti yang kau lakukan.

Maafkan aku atas banyak hal. Atas semua yang kusampaikan dan yang tak mampu kusampaikan. Maaf karena sering membuatmu kecewa. Maaf karena mengabaikanmu. Maaf karena membuatmu kesepian. Maaf karena jarang membalas pesanmu dan selalu menutup telepon lebih dulu. Maaf karena aku tak tahu apa makanan kesukaanmu. Maaf karena selalu membuatmu menunggu kabar dariku dan karena tak pernah menanyakan kabarmu. Maaf karena sering tak memakan masakan yang kau masak susah payah. Maaf tak pernah membelikanmu sesuatu seperti saat dulu kau selalu memenuhi permintaanku. Maaf karena selalu menepis tanganmu yang ingin membelaiku. Maaf karena aku kadang tak suka saat kau memelukku. Maaf karena pernah ada suatu masa ketika aku ingin kau adalah orang yang berbeda. Maaf karena tak pernah bisa mencintaimu sebesar kau mencintaiku.

Januari 2013


Surat itu masih tersimpan rapi di laci. Sudah seminggu lamanya sejak aku menulisnya. Jika aku masih punya kesempatan untuk meminta, aku berharap aku masih bisa terbangun kembali, terbebas dari belitan selang infus, tabung oksigen dan segala macam alat yang memacu jantungku tetap bekerja.  10 menit saja cukup. Hanya untuk membacakan isi surat itu untuknya. Hanya untuk memeluknya dan mengucapkan ‘aku mencintaimu’ untuk pertama dan terakhir kalinya. Hanya agar wanita ini, yang duduk memejamkan mata sambil berdoa di sisiku yang terbujur kaku, tahu bahwa dialah ibu terbaik di dunia.

Takdir Hujan


Adalah suatu hari melelahkan di penghujung September saat aku pertama kali berjumpa dengannya. Aku sedang mengayuh sepedaku sepulang dari kampus setalah berjam-jam berjibaku dengan tugas akhir semester, saat tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. 
Kukayuh sepedaku buru-buru menuju kapel kecil di sudut jalan kampus. Kapel itu memiliki beranda yang cukup lebar untuk melindungi dari tampiasan air hujan.
Aku berdiri di sebelah sepeda yang kuparkir di depan pintu kapel sambil memandangi tetesan air hujan yang menghiasi sore dingin itu bagai manik-manik transparan yang disebarkan langit. 
Entah karena terlalu asik memandangi hujan atau memang dia hadir bersama manik hujan yang diturunkan dari langit, yang jelas aku tidak ingat bagaimana dia bisa tiba-tiba berdiri diam di sana. Mungkin beberapa menit yang lalu. Atau beberapa jam, aku tidak tahu.

Gadis itu mungil. Tingginya kira-kira hanya sebahuku. Kutaksir umurnya 2 atau 3 tahun di bawahku. Rambutnya hitam lurus sebahu. Pandangannya menerawang ke depan, menembus jutaan tetes air hujan dan terpaku entah pada apa. 
Dia tak bergeming saat mataku menelusurinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sesaat kukira dia tidak bisa berkedip atau bahkan bernapas. Dan ketika imajinasiku sedang membayangkan dia tiba-tiba terbang melayang atau pelan-pelan menjadi transparan sebelum akhirnya menghilang, tanpa aba-aba dia menelengkan kepala dan berpaling ke arahku. Aku berjengit kaget karena gerakan mendadak itu. Wajahnya, saat kami saling menatap, tak punya ekspresi. Datar tak wajar. 
Namun matanya, dua butir buah badam yang kuketahui berwarna coklat tua keabuan di perjumpaan berikutnya, entah mengapa seakan menyimpan selusin emosi.
Ingin tahu, tatapan itu melibas jarak dua meter yang memisahkan kami dan menancap menembus jantungku bagai anak panah penasaran yang menginginkan penjelasan.
Aku terpaku diam di tempat dan pasti terlihat seperti orang bodoh karena mulutku menganga dan baru terkatup setelah melihatnya mengangguk dan menolehkan kepala kembali menatap ke depan.
Di usiaku sekarang ini, aku telah banyak bertemu gadis-gadis cantik dan memesona. Duduklah di hall kampusku dan 10 jari tak akan cukup untuk menghitung banyaknya mahasiswi cantik yang melintas. Mereka jauh lebih cantik daripada gadis mungil di sampingku ini. Tapi ada sesuatu yang menarik darinya. Sosoknya, wajahnya, caranya memandang hujan, caranya menatapku, aku tak paham namun sesuatu itu menimbulkan sensasi asing yang menjalar dan menggeliat di dadaku. Gadis itu membuatku ingat rumah.
Belum usai sensasi itu menjalar-jalar di dadaku, gadis itu sekali lagi menoleh ke arahku, mengerjapkan mata dua kali, lalu tanpa suara atau sepatah kata dia berbalik pergi. Dress biru mudanya berkibar tertiup angin saat dia menembus rintik hujan tanpa payung. Mataku menatap lekat punggungnya dan kudapati dia melompat-lompat riang sebelum akhirnya hilang ditelan tikungan jalan.
Sekian menit kurenungi kehadirannya yang tanpa tanda, kepergiannya yang tiba-tiba dan keanehan bahwa jika dia pergi begitu saja walau hujan masih deras dan akhirnya dia basah, lalu untuk apa dia tadi berteduh. Saat akhirnya aku tak mendapat pencerahan akan peristiwa tadi, kuputuskan untuk menutup kebingungan itu dengan kesimpulan klise. Anggap saja kebetulan semesta.

Dua hari lamanya gadis itu menghuni pikiranku. Saat kuceritakan dia pada Asep, teman baikku, Asep hanya berkata, “Paling anak desa sekitar sini. Atau jangan-jangan hantu kapel yang penasaran sama kamu”. 
Rasa penasaran tanpa jawaban memuaskan itu hampir saja hanya berumur dua hari, jika saja sore itu, sore kedua setelah perjumpaan kami yang pertama, tidak turun hujan.  
Seperti yang sering terjadi di awal bulang penghujan, sore itu saat sebenarnya matahari bersinar terang, hujan ringan turun tanpa terduga.
Aku ketika itu sedang duduk berkutat dengan tugas dikelilingi serakan kertas di sudut sepi hall kampus saat mendadak merasakan dorongan untuk mendongakkan kepala dan memandang ke luar. Seolah ada seseorang yang membisikkan sesuatu di telingaku, sesuatu yang merasuk masuk ke pikiranku dengan intensitas tanpa suara. Sesuatu yang membuatku tiba-tiba teringat sore hari hujan saat aku dan gadis itu berjumpa.
Aku memberesi barang-barangku dengan tergesa dan berlari mengambil sepeda lalu bergegas mengayuhnya menuju kapel sudut jalan itu.
Seperti yang kuharapkan, seolah-olah kami sudah berjanji untuk bertemu lagi, gadis itu ada di sana. Aku berhenti di depan kapel lalu berlari menuju beranda dengan gaya seolah tak sengaja berteduh di sana. Aku beringsut mendekat dan dengan ekor mata kuamati dia. Rok coklat, blus putih, rambut dikepang. Kuno namun menggemaskan. Sinar matahari sore yang menyusup di antara awan mendarat lembut di wajahnya yang mulus. Tunggu, hujan dan sinar matahari, bukankah seharusnya ada pelangi? Ah, anggap saja Tuhan mengirim gadis ini sebagai ganti.
Gadis itu maju selangkah lalu mendongak menatap langit.
“Wah, hujan monyet”, dia berujar lebih pada dirinya sendiri.
“Hah? Apa?” pertanyaan itu terlontar begitu saja tanpa kusadari.
Gadis itu menoleh kaget seolah baru menyadari kehadiranku di tempat itu.
“Maaf. Tadi kamu bilang apa ya?”
“Oh, itu, eng, hujan monyet itu maksudnya apa?”
Gadis itu tersenyum. Lesung pipi terbentuk di garis senyumnya.
“Kalau hujan turun saat matahari bersinar terang, itu namanya hujan monyet. Dan kalau beruntung, setelahnya kita bisa melihat pelangi”.
Aku mengangguk-angguk, “Saya beruntung kalau begitu”.
“Bagaimana bisa? Tidak ada pelangi lho”
“Ada kok. Saya lihat itu di mata kamu”.
Sesaat setelah kalimat itu kuucapkan, aku berharap bumi menelanku bulat-bulat. Aku berdiri canggung menahan malu, dan tiba-tiba gadis itu tertawa.
“Kamu lucu”, katanya di sela tawa.
Bingung, namun akhirnya aku ikut tertawa juga.
Sore itu, hujan monyet, aku dan dia, tawa kami berdua. Kuharap ada yang bisa membingkainya.

Baru keesokan harinya aku sadar, aku bahkan belum tahu nama si gadis hujan monyet itu. Dalam hati aku berharap semoga hari ini turun hujan.
Namun rupanya butuh dua sesi keberuntungan untuk bisa tahu namanya karena dua hari ini tidak turun hujan. Saat akhirnya hujan turun siang menjelang sore, aku bahkan meninggalkan kelompok diskusiku dengan buru-buru.
“Ada apa sih?” tanya Asep bingung.
“Hujan, Sep!” sahutku sambil berlari.
“Lutung aja tahu kalau ini hujan, bego! Kamunya yang ada apa?” teriak Asep.
Aku tak sempat menjawab. Takut kehilangan sekejap saja kesempatan berjumpa dengan gadis itu.
Saat aku sampai di halaman kapel, aku harus sanggup kecewa. Gadis itu tidak ada. Menunduk lesu, kutuntun sepeda dan berteduh sendirian. Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru halaman. Dan sia-sia.
“Mencari saya?”
Terkesiap aku menoleh, dan gadis itu sudah berdiri di belakangku.
Sial. Benar kata Asep. Hantu kapel.
“Saya dari dalam”, seolah menyadari keheranan separuh ketakutanku, dia menunjuk pintu di balik punggungnya.
“Hehe. Kamu bikin saya kaget”.
Tak mau kehilangan kesempatan aku buru-buru melanjutkan, “Ada yang bilang, sekali berjumpa itu kebetulan. Dua kali itu keberuntungan. Tiga kali itu takdir. Saya Reza”.
Disambutnya uluran tanganku. “Siapa yang bilang?, tanyanya.
“Eh, lupa. Hehe”
“Krisma”
“Hah, bukan kok? Memangnya siapa itu Krisma?”
Dia tertawa renyah.
“Saya. Kamu tadi tanya nama saya kan? Nama saya Krisma”
“Oh, maaf”, sahutku malu.
Ada jeda panjang yang diisi suara rintik hujan. Kurasa kami sama-sama sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Atau, dia dengan pikirannya dan aku dengan kebimbangan untuk memilih bahan obrolan.
“Reza”, panggilnya lirih hampir tak terdengar.
“Hah? Iya, kenapa?” aku tergagap.
Dia diam cukup lama sebelum akhirnya bertanya,
“Apa kamu percaya takdir?”
******

Sebulan berlalu. Hujan turun belasan kali. Namun ternyata pertanyaan tak terjawab yang ditinggalkan gadis hujan monyet begitu saja menjadi kalimat terakhirnya untukku. Aku tak pernah melihatnya lagi.
******

“Sep, gerimis nih. Kamu yakin ngebiarin mereka hujan-hujanan bangun tenda?”, tanyaku.
Mataku mengawasi gerombolan mahasiswa baru yang sibuk mendirikan tenda di tengah rintik hujan.
“Baru gerimis, Re. Belum hujan badai. Anggap saja sebagian dari ospek. Hehehe…”, sahut Asep nyengir.
Dari kejauhan aku melihat sesosok gadis bersusah payah menancapkan pasak. Kuhampiri dia dan kutawarkan bantuan.
Seseorang melewatiku saat aku menunduk memasang pasak, berjalan pelan sambil berkata,
“Wah, hujan monyet, nih”.
Aku tersentak dan buru-buru mendongak.
“Hei!”, yang kupanggil menengok.
Satu bulan mungkin cukup untuk membuat gambaran orang-orang yang kita temui hanya tiga kali menjadi samar-samar. Tapi aku mengenalinya. Dia jelas gadis hujan monyetku itu. Namun entah mengapa, mata buah badam coklat tua keabuan itu menatapku dengan dengan sorot yang hanya bisa kuterjemahkan sebagai, “Siapa sih, orang ini?”. Oke anggap saja dia lupa.
“Iya, kak. Ada apa ya?”, dia bertanya ragu.
“Hujan monyet. Tadi kamu bilang itu kan?”
“Iya, kak”
“Hujan turun saat matahari bersinar terang, kan?”
“Iya, kak”
Saat dia tak juga menunjukkan tanda-tanda mengenaliku, aku bertanya, “Kamu Krisma, kan?”
Gadis itu menggeleng bingung.
“Bukan, kak. Nama saya Lea”, katanya sambil menunjukkan callcard yang tergantung di lehernya.
Aku mengernyit keheranan.
“Jadi, nama kamu bukan Krisma?”
“Bukan, kak”, gadis itu makin bingung.
Saat dia hendak melangkah pergi, tiba-tiba saja dia berkata,
“Ehm, tapi kak, nama ibu saya Krisma lho”
Aku tertegun. Semua ini menjadi tidak masuk akal. Krisma, Lea, kapel, hujan monyet, mata buah badam. Aku tidak tahu apa yang sedang berlangsung dalam pikiranku. Akal sehatku menggapai-gapai mencari penjelasan rasional. Namun hatiku mendadak berdesir dan aku menyadari sesuatu.
“Lea, apa kamu percaya takdir?”










Memilih mencintaimu


Jatuh cinta itu takdir, mencintai itu pilihan…


“Rini?”
“Indi, pak,”
“Hah? Panji? Sama kayak nama saya dong?”
“Indi. Bukan Panji,”
“Oh, sori. Iya, Cindy,”
Kuambil post-it di atas mejanya dan menuliskan namaku dengan huruf capital spesial dengan dua tanda seru. Kuangsurkan kertas itu ke lelaki di depanku.
“Oalah, Indi toh? Ngomongnya yang jelas dong,”
Situ aja kali yang budek pak. Untung manis. Jadi kumaafin deh lu pak.
“Oke, Indi. Saya Panji. Asistennya Pak Sapto. Kalau ada sesuatu yang kamu belum jelas tentang kerjaan kamu, silakan tanya langsung ke Pak Sapto. Jangan tanya ke saya. Wong kerjaan saya aja kadang saya gak mudeng. Oke, sip? Selamat bekerja. Semoga betah.”
Setengah melongo aku mengangguk lalu menyunggingkan senyum. Senyum paling lebar dari semua senyum yang sengaja kuhemat untuk kubagi-bagi ke seluruh penjuru kantor di hari pertama kerja.
“Iya, pak,” Saya pasti betah. Selama ada kamu.
……
“Heh! Ngelamun saat jam kerja. SP 1,”
Kupelototi Jimi.
“Ngelamunin bos saat jam kerja, SP 2,”
Aku makin melotot.
“Gue gak ngelamun ya. Gue lagi cari-cari inspirasi buat ngerjain laporan nyebelin ini,”
“Oh, gue baru tahu kalau muka Panji bisa jadi inspirasi buat bikin laporan,”
“Gue gak ngelamunin dia, Jiiim,” aku membela diri.
“Iya, iya percaya deh. Laporan gue belum kelar ni, datanya kacau, kayaknya gue harus validasi lagi deh, emang lu ngelamunin apa sih tentang Panji?”
“Gue pelukan sama dia di, ah sial lu mancing gue!”
“Hahaha, kena lu!” Jimi ngakak puas dan terpaksa harus kubekap mulutnya dengan sebendel laporan karena beberapa mata mulai melirik ke arah kami.
“Jamal gilak. Anak-anak bisa denger tauk,” aku merengut.
“Kalau lu panggil gue Jamal lagi, gue jamin seluruh isi kantor ini bakal tahu skandal lu sama Panji,”
Skandal apaan? Muke lu tuh kayak skandal jepit. Lagian emang nama lu Jamal. Gayanya minta dipanggil Jimi.”
Jamal a.k.a Jimi melengos sambil melangkah ganjen, “Hen, Hen, lu tau gak desas-desus…”
Buru-buru kutarik lengan Jimi dan kucubit keras. Jimi berteriak kesakitan dan lagi-lagi harus kubekap mulutnya karena semakin banyak mata yang melirik ke arah kami.
“Salah banget gue milih temen curhat kayak elu,”
“Udah lah Ndi, sama gue aja lu pake acara jaim-jaiman. Sekarang gue tanya serius. Kapan lu pertama kali masuk di kantor ini?”
 “Ehm, 15 September 2010, jam tujuh lebih lima belas menit. Kenapa sih?
“Dan kapan lu pertama kali jatuh cinta sama asisten manager kesayangan lu itu?”
Aku mengangkat bahu, “15 September 2010, jam tujuh lebih empat puluh lima menit, mungkin,”
“Udah 2 tahun dan kenapa lu masih kayak anak abg galau yang tak kunjung mengungkapkan cinta?”
Kutinju lengan Jimi sambil merengut.
“Indi, honey. Ini 2012 lho ya. If you want Panji Rahadi, ask him!”
Aku melengos dan berjalan meninggalkan Jimi.
“Sableng ni anak,” gerutuku sambil lalu.
…………..

“Eh Ndi, ini kenapa di belakang nama saya ada gambar love sih?”
“Hah! Masa sih, pak?” aku panik dan membuat gerakan ekstrim melompat ke depan Panji lalu menyambar kertas di genggamannya.
Breeett…
Kertas sobek jadi dua.
“Pelan-pelan kenapa sih, Ndi? Heboh banget,”
“Ehm,,sori pak. Tadi ehm, terlalu bersemangat,”
“Coba lihat, ada gambar love love warna pink gitu di belakang nama saya. Apa sih ini? Kamu yang bikin ni pasti,”
“Oh, anu pak, yang dikasih gambar love itu artinya koordinator audit,”
“Kok, cuma nama saya yang ada gambarnya? Koordinator yang lain gak ada tuh?”
Buru-buru kuambil sisa kertas yang masih dipegang Panji lalu meremasnya.
“Ah, bapak lihatnya gak jelas kali pak. Bapak kan gak pakai kacamata,”
“Ah, masak sih?”
“Udah deh pak, jangan dibikin pusing. Nanti saya bikinin lagi aja ya pak. Gak pakai gambar love. Gambar kuda aja. Kuda lumping,”
Gemblung ki bocah. Ra genep po yo?” Panji menggumam dalam bahasa Jawa yang tak kumengerti.
Apapun artinya, bagiku Panji selalu nampak seksi saat bicara dalam bahasa Jawa.
Kuremas kertas bergambar love yang kubuat dengan segenap hati itu dengan gemas. Sambil berharap yang kuremas saat itu adalah hatinya. Gambar love sialan.
.......

“Pak ini rekap barang yang diretur bulan ini,”
“Banyak amat, Ndi?”
“Banyakkan juga cinta gue yang lu retur pak,”
“Hah? Apa Ndi?”
“Ah, itu pak, akhir-akhir ini emang banyak barang yang di retur pak. Kebanyakan bukan karena ED dekat tapi karena kemasan rusak,”
“Kok bisa kayak gitu?”
“Yeee, mana saya tahu pak,”
“Kok kamu bisa gak tahu?”
“Aduh bapak, mana saya tahu. Bapak konfirmasi sendiri deh sama bagian produksinya,”
“Kenapa harus saya yang tanya? Kenapa bukan kamu?”
Ribet amat sih hidup lu pak.
“Saya males sama kabidnya, pak. Bu Fany kan galak banget kalau sama cewek, suka ribet lagi. Bapak aja deh sana,
“Saya juga males sama supervisornya. Dimas kan ganteng banget, suka sama kamu lagi. Kamu aja deh sana,
Grrr.....minta dicium ni laki.
“Dimas lagi Dimas lagi. Kenapa sih Pak Panji sirik banget sama dia? Bapak cemburu sama Dimas gara-gara dia suka sama saya?”
“Loh, jelas lah. Saya takut cewek semanis kamu mau  sama cowok tukang tipu model Dimas,
Kujatuhkan polpen ke lantai lalu menunduk untuk mengambilnya demi menyembunyikan mukaku yang aku yakin memerah.
Please deh, pak,
Rasanya jantung berdetak di mukaku bukannya di dalam rongga dada. Kupijit-pijit tengkukku tanpa alasan, pertanda sedang grogi.
“Saya serius lho, Ndi. Menurut saya, kamu itu manis dan menarik. Pasti banyak cowok yang antri buat ngedapetin kamu,
Tapi gue maunya sama elu pak. Cuma sama eluuuu. Tak bisakah kau dengarkan jeritan hatiku ini oh atasanku nan tampan.
“Kamu tuh punya banyak kelebihan. Kamunya aja yang gak sadar. Kamu tahu gak, kelebihan apa yang paling lebih dari kamu?”
Ngomong apa sih kamu wahai Josh Duhamelku?
“Apa coba, pak?”
“Gengsi. Kamu itu kelebihan gengsi. Makanya sampai sekarang kamu masih single. Coba turunin dikit tu gengsi. Kalau suka ya bilang aja suka. Wong nasi aja disimpen bisa basi, apalagi perasaan,
Pak Panji sayang, engkau memanglah Josh Duhamel dalam hidupku. Tapi jangan lempar granat sembarangan gitu dong di hatiku. Lu kira kita lagi shooting film Transformer? Mendadak gelagepan ni kena sindir kayak gitu. Enak aja lu ngomong gengsi. What? Bilang aja kalau suka? Kalau gue sampai ngaku suka ke elu, apa elu rela buang mayat gue karena setelah gue ngaku gue bakal lompat ke kolam
penampungan limbah samping pabrik?
“Ngomong apa’an sih bapak? Tadi gimana tuh soal returan,” kupasang suara sesewot mungkin demi menghilangkan jejak grogi.
“Kamu aja ya yang ngurus. Saya mau telpon Pak Wildan, tanya soal kualifikasi mesin,
“Biar saya yang tanya Pak Wildan, Pak Panji yang urus returan. Oke?”
“Gini aja, yang paling cepet pegang telepon dia yang telpon Pak Wildan, yang lain ngurus returan. Fair kan?
Suka konyol deh atasan kurang kerjaan ini.
“Hitungan ketiga. Satu, dua, tiga..”
Belum sempat Panji bilang tiga, tanganku sudah bergerak cepat menyentuh gagang telpon. Sesaat kukira aku yang berhasil lebih dulu sebelum kusadari ternyata tangan Panji sudah memegang gagang telpon saat dia belum mengucapkan kata dua.
Tanganku mendarat mulus di atas tangannya. Seerrr, mendadak jantung berdesir, bulu kuduk merinding. Selama beberapa detik tanganku tetap bertahan di sana dan mungkin saja selamanya akan tetap di sana jika saja aku berani bilang, “Aduh pak, tangan saya punya medan magnet yang kalau ketemu kutub berlawanan bakal tarik-menarik dan susah lepas”, atau “Yah, kayaknya saya kena mantra Harry Potter deh pak. Nih tangan saya gak mau lepas dari tangan bapak.”
Oh, Panji Rahadi, inilah tempat di mana seharusnya tanganmu berada. Dalam genggaman tanganku.
Dan menggenggam tangan Panji walau tanpa sengaja ternyata menimbulkan sensasi asing yang menyenangkan. Rasanya seperti sedang piknik di padang rumput hijau. Angin sepoi-sepoi, sinar matahari yang hangat, bunga-bunga merah jambu bermekaran…
“Plak”
Tangan Panji yang bebas menampar tanganku.
“Saya yang menang. Gak usah melongo gitu, cepet sana urus return,”
Pyaaarrr…pecah sudah bayangan piknik dan bunga-bungaan tadi. Aku keluar dari ruangan Panji dengan jantung yang masih berdesir dan bulu kuduk masih merinding. Kukepalkan tanganku yang tadi menyentuh Panji dan dalam hati bertekad tidak akan cuci tangan seminggu ke depan.
……..
“Pluk!”
“Aduh! Siapa sih ni yang lempar spidol? Belum pernah kucium, ya?!”
“Saya. Dan saya memang belum pernah kamu cium,”
Glek. Sambil menahan batuk gara-gara keselek ludah sendiri aku meringis.
“Maaf, pak. Saya kira tadi Jimi. Lagian kenapa pake acara lempar-lemparan sih, pak?”
Masih mending kalau situ ngelemparnya pake cinta.
“Tadi kamu dipanggil nggak denger. Budek gara-gara kebanyakan dengerin gosip ya? Ke ruangan saya sebentar,”
Sambil mencibir aku membuntuti Panji masuk ke ruangannya.
“Habis diapain lu? Makin monyong aja tu bibir,” bisik Jimi saat aku melewati mejanya.
“Gue lagi pemanasan. Biar bibir gue siap kalau-kalau Pak Panji nyium gue di ruangannya,” bisikku balik.
“Malah ngobrol. Buruan ndi,”
Buruan apa, pak? Nyiumnya?
Demi mengenyahkan hasrat menciumnya, kututup mulutku dengan punggung tangan dan masuk ke bilik 3x4 yang dipenuhi aroma cologne Panji. Entah mengapa wanginya selalu membuatku ingat rumah. It just makes me feel like home. Membuatku ingin pulang. Pulang ke pelukannya. Aaaak,,tampar saja aku.
“Kamu bisulan?”
“Hah? Heh?” aku tergagap, sadar dari angan-anganku memeluknya.
“Itu kursi nganggur, kenapa gak duduk? Mau duduk di pangkuan saya?” tanya Panji ringan. Seolah ditawari pangkuannya sesimpel ditawari kopi.
Hampir saja aku mengangguk tanpa sadar.
“Pak Sapto udah ngasih tahu kamu?”
“Soal apa, pak?”
“Kalau saya adalah batman,”
Sumpah garing banget deh lu pak. Kayak keripik karak buatan simbah gue yang kelamaan dijemur.
“Makanya, muka kamu tuh jangan disetel serius gitu dong,”
“Udah dari sononya kayak begini, bapak,”
“Yak, lanjut. Pak Sapto udah ngasih tahu belum, kalau yang berangkat audit lusa itu kamu?”
“Hah? Bukannya si Jimi yang harusnya pergi?”
“Gak jadi,”
“Lha, kenapa bisa gak jadi?”
Menurut saya, kamu lebih kompeten,”
Kompeten dalam apa? Mendampingimu? Memang.
“Terus, Jimi bagaimana dong pak? Saya kan gak enak sama dia,”
“Tenang, biar saya yang ngasih tahu dia. Lagian saya juga males nginep bareng dia,”
Kalau sama saya, jelas gak males kan pak?
“Nah, saya sama sekali belum tahu materinya kayak apa, pak,”
“Besok saya kasih tahu,”
“Kerjaan saya, gimana pak? Laporan untuk presentasi minggu depan belum kelar pak,”
“Biar Oliv yang beresin,”
“Tapi kenapa mendadak gini sih, pak? Saya kan udah kadung bikin janji,”
“Halah. Kamu nih mau gak sih sebenernya? Kalau gak mau saya cari gantinya,”
“Mau!”
Sial, kelewat antusias. “Ehm..mau pak,” kukalemkan suaraku.
“Huh...” Panji mendengus sambil nyengir. Cengiran khasnya yang membuatnya seribu kali lebih imut. Yang membuatku jatuh cinta. Selalu.
Aku keluar dari ruangannya sambil menahan diri sekuat tenaga untuk tidak melemparkan tubuhku ke pelukannya.
Dua malam bersama Panji Rahadi. Ah, heavenly earth.
……
“Jupri, nanti pas istirahat tolong bikinin saya es kopi kayak biasanya, ya. Makasih Jup,”
Panji menowel bahuku dari samping, “Bisa gak sih kamu hidup tanpa kopi? Gak sehat lho itu,”
Oooh, tentu bisa, sayang. Yang gue kagak bisa itu hidup tanpa elu, you know?
“Nggak. Nggak bisa. Kalau gak minum kopi saya bisa ngamuk,” sergahku sewot. Biasa, demi menutup grogi.
“Akumulasi kafein itu bisa meracuni tubuh kamu, Ndi. Toksik. Bisa membunuh kamu pelan-pelan,”
Lu tuh yang racun. Lu tuh yang toksik. Lu pembunuh. Pembunuh hatiku nomor satu.
“Ini kerjaan mau diterusin apa bapak mau presentasi bahaya kopi aja?” kupelototi dia dan hanya dibalas dengan cengiran andalan.
Sudah setengah jam sejak Panji duduk di sebelahku, memberiku materi untuk audit lusa dan yang sedari  tadi merasuk dalam pikiranku bukanlah daftar pertanyaan audit melainkan aroma tubuh Panji yang membiusku. Aduh sayang...aku lumpuh gara-gara kamu. Yang bisa kugerakkan hanya leherku yang kusetel untuk mengangguk-angguk dengan irama konstan agar aku terlihat paham.
“Ini check listnya kamu copy dari tahun lalu aja, terus ini...”
“....lhah, kenapa di close pak?? Tadi belum saya simpen,
“Ini kan gak penting. Kenapa tetep dimasukin, Ndi? Ngeyel kamu,
“Tadi katanya ngopi dari tahun lalu. Gimana sih bapak ni?”
Kasak-kusuk kami yang memang berisik terputus oleh suara sember Jimi yang mendadak nyamber.
“Aku bisa membuatmuuu jatuh cinta kepadakuuu meski kau tak cintaaa...”
“Jim…” suara dalam Panji menghentikan Jimi.
“Iya, bapak. Ada apaaa?” kata Jimi sok imut sambil pasang wajah polos. Padahal aku tahu, dia menyanyi untuk menyindir kami. Maksudku, menyindirku.
“Kamu pikir kamu Sammy Simorangkir apa? Inget nasib Jim, inget,”
“Rasain, lu,” desisku ke arah Jimi.
Bibir Jimi membentuk senyum usil, “Saya kan hanya ingin menghibur, Pak. Kelihatannya lagi panas tuh di situ,”
“Menghibur, gundulmu. Suaramu bikin komputer Indi error ni,”
“Ah, masak sih pak? Eh padahal ini lagu kesukaan Indi lho pak. Hobi banget dia nyanyi ini kalau lagi patah hati,” Jimi menambahkan “Kena deh lu” ke arahku tanpa suara.
“Oya? Memangnya cewek sejudes dia bisa patah hati? Pangeran beruntung dari negeri mana yang bisa mencuri lalu mematahkan hatinya?” Panji berhenti mengetik dan melirik ke arahku.
Ah, kucing bunting!
“Waah..bapak belum tahu ya ceritanya? Seru lho pak,”
Jimi memang minta ditabok.
“Duh, jadi penasaran ni aku. Mbok cerita to, Ndi,”
Kuacungkan kepalan tanganku ke arah Jimi.
“Sudah, sudah. Bapak jangan percaya raja ngibul kayak Jimi. Nggak ada tu cerita kayak begituan. Nobody can’t break my heart,Because there’s nothing left to be broken. Oke? Dan itu gara-gara elu, bang. Elu yang bikin hati gue remuk redam. Cuma elu, abang Panji sayang…
“Bohong ding. Suka sama cowok tapi nggak berani bilang tuh dia pak. Macem anak SMP aja kan, pak?”
Panji tiba-tiba memutar kursinya, dan menghadap ke arahku.
“Indi, ada yang pernah bilang ke saya, kalau Tuhan hanya sejauh doa maka lelaki idaman hanya sejauh ungkapan cinta,”
Pret. Siapa tuh yang bilang? Sini gue gebukin!
Aku hanya sanggup memanyunkan bibir sementara senyum innocent Panji terus membayang diiringi suara sember Jimi bernyanyi.
Aku bisa membuatmuuu jatuh cinta kepadakuuu meski kau tak cintaaa….
……

“Hadooh maaak, Surabaya puanas poooll…” Panji mengipasi wajahnya dengan gaya lebay.
“Iya, panas gilak pak,” Tapi tak sepanas kamu saat ini, honey.
Kulirik Panji dengan sudut mata. Jeans hitam, polo shirt merah maroon, kacamata minus, jam tangan kesayangan, rambut cepak hitam berkilau, berdiri dengan pose favoritku – tangan di saku celana. So sexy. Bahkan dengan bulir keringat yang muncul di pelipisnya yang rasanya ingin kuusap dengan penuh kasih sayang.
“Mau akan apa, Ndi?”
Kamu.
“Ehm, sate Padang?”
“Ndi, kita di Surabaya lho. Makannya yang kontekstual dong. Sate Padangnya besok aja kalau kita ke Padang. Oke?”
Sip. Besok gue mau makan sate domba Afrika ya bang. Biar kita perginya jauh sekalian.
“Tuh, ada bebek goreng. Itu juga gak kontekstual sih, tapi bapak suka banget makan bebek kan?” Aku menunjuk tempat makan di seberang jalan.
“Yes. Kok kamu tahu?”
Apa sih yang aku gak tahu tentang kamu, sayang?
“Ya udah, kita makan situ aja ya pak?”
“Yuk buruan, saya laper banget nih,”
“Saya juga laper banget, pak,” Laper kasih sayang. Dari kamu.
Kami masuk ke tempat makan dan duduk di pojok dekat jendela. Tempat yang pas untuk sepasang kekasih yang sedang tergila-gila. Tempat yang bikin frustasi untuk seorang wanita yang sedang tergila-gila pada lelaki yang tak menyadari kalau dia digilai. Tak heran, wanita itu akhirnya menjadi gila sungguhan.
“Kamu mau pesan apa, Ndi?”
“Saya sama kayak bapak aja deh, pak. Saya nggak ahli di dunia perbebekan,”
“Eh, Ndi, ini kan bukan jam kerja. Please, jangan panggil saya pak dong,”
Oke, Honey. Atau Darling? Baby? Ah, Sweetheart lebih manis kayaknya.
“Oh, siap om!” Aku mengangkat ibu jariku.
“Yaaa..jangan om juga kali. Saya cuma enam tahun di atas kamu, Ndi,”
“Saya punya om yang cuma 2 tahun di atas saya,”
“Kamu ni hobi ngeyel, ya. Panggil saya mas. Kalau gak, saya tinggal kamu di sini,”
“Idih..iya deh mas Panji,” kataku dengan penekanan pada kata mas.
Dan mendadak dadaku seakan dialiri arus listrik. Memanggil Panji dengan sebutan mas, saat kami hanya berdua, rasanya ada keintiman asing yang menguar di antara kami berdua. Orang-orang akan mengira kami adalah sepasang kekasih atau malahan suami istri.
Panji sedang asik bercerita tentang masa-masa kuliahnya dulu, dan aku, dengan ekspresi  mendamba yang setengah mati kusembunyikan, sedang memperhatikannya bicara berapi-api ketika ponselnya ringtone lagu keroncong norak menginterupsi.
Panji mengangkat tangan dan berujar “Bentar ya,” lalu mulai berbicara dengan si penelpon.
Entahlah, tapi aku mendadak merasa ditinggalkan. Lalu sebuah kenyataan menghantam di sasaran yang paling tepat. Hatiku.
Kutatap bebek goreng dalam cobek dan merenung. Bahwa jatuh cinta pada Panji adalah takdirku. Dan bahwa aku bertahan dalam diam dan kepedihan untuk tetap mencintainya adalah alur cerita yang kupilih. Lalu saat aku dijatuhi takdir lain, takdir yang mematahkan hati, aku berharap punya kekuatan untuk memilih.
Samar-samar kudengar Panji berbicara.
“Jevon mau oleh-oleh apa? Besok papa pulang. Jangan lupa jemput papa di bandara ya sama mama,
Suara Panji mengabur. Sesuatu dalam diriku menyadarkanku akan sesuatu. Aku sudah memilih. Memilih mencintainya. Dan itu yang kulakukan sekarang. Entah sampai kapan.
Kuhela nafas panjang. Yah, lelaki idaman memang hanya sejauh ungkapan cinta. Kami berhadapan, tapi rasanya ungkapan cintaku ke Panji jauhnya ratusan kilometer.
Aku menatap lelaki idaman di hadapanku sebelum kemudian kutundukkan kepalaku buru-buru. Lingkaran emas di jemari Panji tak pernah terlihat semenyilaukan ini.