diakhiri dengan indah...

Saat harus berkemas dan berhenti
kau harus tahu, ini bukan karena ketidakmampuanku menunggu.
Terpaksa bergerak dari labuhan, semata karena aku tak sanggup tenggelam.

Kau harus lihat, kuturunkan sekoci dari harapan yang karam,
memangkas layar-layar penantian, pergi dari kepercayaan.
Bukan karena aku menyerah,
hanya karena kau ternyata tak pernah sama.
Tak pernah sama seperti yang kuduga pernah ada.
Kompas hati menunjuk arah yang salah, karena kurasa bumi ingin aku belajar,
mengarungi samudera bertepi semu macam hatimu.
Ini bukan soal hati yang luka, bukan, tenang saja.
Hanya masalah pribadi antara logika dan harga diri.
Kau tak perlu memahami, tak pernah perlu.
Jika saatnya tiba, kelak kau akan mengerti,
ini hanya sebuah pembebasan diri yang terjerat mimpi.
Konfigurasi maya yang penuh ironi.
Aku perlu bangun, beranjak dari ketidakberdayaan menghadapimu.
Jadi, kubentangkan layar, berharap angin mengusaikan kait tak wajar yang menyatukan kita.
Lalu, sekociku bergerak perlahan menuju senja,
Kisah hari ini, diakhiri dengan indah...


'Perfect Sunset' Days...

Entah karena sedang musimnya atau entah karena apa, hari-hari terakhir belakangan ini saya sering 'nemu' perfect sunset tiap sore. Lalu menikmati senja pun menjadi hobi dadakan saya setiap jam 5 sore sampai saatnya matahari benar-benar tenggelam. Naik motor sendirian, pelan-pelan sepanjang jalan ke arah barat sambil nungguin matahari tenggelam, atau nangkring di jendela kamar yang kebetulan punya posisi pas untuk dapet view sunset yang sedang bagus-bagusnya. It's such a lovely thing to do for a sentimentil person like me. 

Saya adalah penikmat senja. Saya ingat, hobi saya sejak kecil adalah nongkrong di atap rumah tiap sore sambil nyetel mp3 dan melihat matahari hampir tenggelam. There's a little ridiculous story about it. Suatu sore ibu saya pernah dapat telpon dari tetangga depan rumah yang isinya sebagai berikut: Bu, ada orang naik genting rumah ibu lho. Kayaknya orang gila.
Weitz, that was me! Dan saya cukup waras. Memanjat genting rumah sendiri demi menikmati senja yang adalah salah satu 'quality time' saya, tidak ada kaidah yang menyebut itu kegilaan kan?

Lalu kenapa saya bisa jatuh cinta pada senja? 
Tidak tahu. Yang jelas, setiap kali melihat senja saya merasa seperti diingatkan untuk pulang.
Senja selalu bisa menjebak saya dalam sebuah dimensi rasa yang bahkan saya sendiri tidak bisa jelaskan itu apa. 
(Oke, mungkin hanya orang sentimentil sejenis saya yang sanggup memahaminya)

Sayang saya buka fotografer canggih yang punya kamera bagus. Jadi, saya hanya bisa taruh gambar orang di postingan ini. Hehe. Tapi, sungguh, melihat senja yang begitu indah setiap sore membuat saya benar-benar mengagumi Tuhan. Betapa Tuhan adalah pelukis alam yang sangat handal. 
Dan, sebagai penggemar senja, saya hanya mampu berharap, dimanapun saya berada, hari ini, esok atau suatu hari nanti, akan ada perfect sunset lain yang selalu bisa saya nikmati.


Sepetak jingga,
sisa hari di garis tepi cakrawala,
dan di sinilah aku duduk menikmati ujung hari
sebelum saatnya pulang ke rumah

My Way...


And now the end is near
And so I face the final curtain
My friend I'll say it clear
I'll state my case of which I'm certain

I've lived a life that's full
I traveled each and every highway
And more, much more than this
I did it my way
....
Regrets I've had a few
But then again too few to mention
I did what I had to do
And saw it through without exemption

I've loved, I've laughed and cried
I've had my fill, my share of losing
And now as tears subside
I find it all so amusing
......
For what is a man what has he got
If not himself then he has not
To say the things he truly feels
And not the words of one who kneels
The record shows I took the blows
And did it my way
Yes it was my way
(My Way_Frank Sinatra)



Ada suatu masa,
dimana kita harus berkemas, berpamitan, dan meninggalkan tempat dimana kita berada sekarang.
Tiga hal terberat dalam hidup yang sejatinya sulit dihadapi karena tak jarang datang keroyokan. Kita dipaksa menghadapi ketiganya sekaligus.
'Dipaksa" beranjak dari apa yang kita pijak sekarang dan melangkahkan kaki ke jalan baru yang bahkan tak tahu kemana dan dimana ujungnya itu rasanya sungguh kompleks. Dan inilah saya sekarang, di tempat yang sebentar lagi harus ditinggalkan, menjalani hari-hari komplikasi, berperang melawan kesentimentilan diri yang orang lain pandang mungkin terlalu cengeng dan berlebihan.
Tapi, apa yang salah dari sebuah ketidakrelaan untuk berpisah?

It may be too much, tapi mengemasi satu per satu barang, mengambilnya dari tempat dimana dulu seharusnya berada, itu rasanya seperti mendorong paksa setiap kenangan yang kita punya ke ruang terdalam hati kita. Menyisakan ruang kosong, berharap tempat baru bisa memenuhinya sama seperti yang dulu. 
Dan hal paling sulit dari berkemas adalah, saat kita menyadari bahwa ternyata ada banyak hal-hal yang sebenarnya ingin kita bawa serta, namun kita sendiri bahkan tidak tahu bagaimana mengemasinya. Such as, friends. Sometimes , i wish, i could wrap all of them.
Kesendirian kadang mensinergikan kesentimentilan. Dan malam-malam sendirian berarti mengukuhkan ketidakrelaan untuk beranjak.
Namun, ketidakrelaan itu pun kadang tersesat, membuat saya bisa berpikir seperti layaknya manusia dewasa. 
Life must go on.
Kehidupan akan terus berjalan. Jika kamu tidak mau tertinggal, berjalanlah bersamanya.

Inilah saatnya saya harus melanjutkan perjalanan, bersama hidup. Demi kehidupan yang lebih baik. Itu justifikasi agar bisa lepas dari orang-orang terkasih di sekitar saya selama ini.
Lalu, sebuah kutipan dari sebuah film membuat saya menyadari, orang-orang yang kita sayangi tidak akan pernah lepas dari kita. Mereka akan selalu kita temukan di dalam hati (Sirius Black_Harry Potter and The Prisoner of Azkaban).
Ini membuat saya mantab dan berani merelakan 'zona nyaman' saya yang selama ini saya diami. Ada banyak hal baik menanti di luar sana. 


People come and go. And now, it's my turn.  
No need to worry about new life. It seems like reading a book you haven't ever known before. All you have to do is just enjoying it.

Kite Season

Fly your kite, raise your voice to the winds, and raise the hopes.
(Children's voices in the wind. The kite project for Haiti)
 
Drought has already begun. There will be plenty windy day greeted us. 
Perfect time to raise your kite. 
Sometimes I ask to myself. How do kite fly? How can kite play among the wind when it doesn't have any wing?
I remember, long time ago, when i was child, there was an unique habit that i and my childhood friends often did when the kite season had came. We would come in the ricefield before sunset and raised our kites. Maybe it sounds ordinary, but the unique part is we usually write down some words, story, or hope in our own kites. Then we flew it together. It was so pleasant, seemed like we let the dream raising and coming true. 


It has been a long long time since I played kite for the last time. In the middle of the 'unnecessary business' like i feel lately, i just want to have one more time to do that lovely simple thing. 
What a funny thing when we realize that we are suddenly missing some moments in our lives formerly....
And I know, I do miss it deeply.....

  
They drift easily through the wind
Swooping down and then up
The wind brings them on a journey
As they speak there tale to the kite
The kite listens, content
Not worried of the human bringing him down
(Kite Flying_Isabelle Quintino)

I am crazy about this guy...

hemm,,so damn charming..

 I wish that girl was me...ngoookk...


owalah maaass...tusuk wae akuuu..hishlah..

Pohon Kersen dan Hujannya...(Part 2)

 Who Likes The Rain?
"I," said the duck. "I call it fun,
For I have my red rubbers on;
They make a little three-toed track,
In the soft, cool mud, - quack! quack!"

"I!" cried the dandelion. "I!
My roots are thirsty, my buds are dry."
And she lifted a tousled yellow head
Out of her green and grassy bed.


"I hope 'twill pour! I hope 'twill pour!"
Purred the tree-toad at the gray bark door,"
For, with a broad leaf for a roof,
I am perfectly waterproof."


Sang the brook: "I laugh at every drop.
And wish they never need to stop
Till a big, big river I grow to be,
And could find my way to the sea."

"I," shouted Ted, "for I can run,
With my high-top boots and rain-coat on,
Through every puddle and runlet and pool,
I find on the road to school."


- Clara Doty Bates (1838-1895)-


"Aku akan pulang, tunggu saja". 
Janji itu rasanya seperti datang dari suatu masa yang sudah begitu lama.


Hampir purnama keempat,
Ini adalah kemarau tergalau yang pernah dirasa.
Pohon kersen sedikit jemu menunggu.
Di sela pancaroba hatinya, pohon kersen berangan. Dimakah hujan kini berada? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia merindukannya juga? 
Di ujung tanya itu kadang pohon kersen merasa, dia telah keliru mengarahkan hatinya. 
Seharusnya bukan hujan. Seharusnya jangan dia.
Jalan ke hatimu sungguh berliku, wahai hujan. Penuh dengan labirin yang menipu. Pohon kersen kehilangan arah, tak tahu lagi harus kemana memantapkan langkah.

"Tak perlu lah kau pilu karena menunggu. Menunggu sesuatu yang tak pasti berarti menyakiti diri sendiri", angin membisikkan pesan lewat sepoinya.
"Kau bahkan tak tahu, mungkin di tempat lain hujan sedang asyik merayu pohon beringin", awan menambahkan.
Pohon kersen menelan kebenaran yang menyesakkan itu sambil menatap burung parkit minta diteguhkan.
"Sabar kawan. Tunggu saja, dia pasti pulang".
"Tapi bagaimana kalau ternyata rumahnya bukan disini?".

Purnama keempat bahkan telah lewat.
Pohon kersen bertahan hanya pada sepenggal janji yang semakin tergerus sangsi.
Sepanjang hari dilafalkannya janji itu, dicernanya, seakan dengan begitu dia akan tahu hujan dimana. Dilafalkannya lagi. Sekali lagi.
Senja itu, ketika pohon kersen sibuk mencermati janji, mencari celah untuk tak mengacuhkannya karena sudah lelah, matahari berkata,
"Nak, terkadang yang jauh lebih menyenangkan dari sebuah janji adalah bukan ketika ia ditepati, melainkan ketika ia direlakan untuk menemukan kebenarannya sendiri"
Pohon kersen yang sudah bimbang makin kebingungan.
"Apa artinya?"
Sambil mengemasi sinarnya yang penghabisan matahari hanya melempar senyuman menenangkan,
"Kelak kau akan menemukan sendiri artinya".
Dia pun berpamitan pulang dan meninggalkan pohon kersen sendirian dalam remang.




Satu hari lagi terlewati, pohon kersen masih menggamangkan arti menanti.
Ingin rasanya berhenti, mencari distraksi. Namun bayangan hujan datang memenuhi janji seakan merasukinya, tak mau dihentikan begitu saja.
Pohon kersen tahu, dia meracuni dirinya dengan harapan semu. Dan racun itu pelan-pelan membinasakannya. Membuatnya mati oleh hatinya sendiri. Dia meranggas. Pohon kersen terlanjur tak mampu hidup tanpa hujan.


"Lain kali, jangan pernah menyerahkan hati seutuhnya. Sisakan sedikit untuk dirimu sendiri", kata parkit.
"Untuk apa?", sahut pohon kersen
"Untuk hidup".
"Seharusnya kau berkaca. Lihat bentukmu sekarang? Kau tak lagi sama. Kau tak berbuah, jadi tak ada burung lain yang hinggap di sini selain aku. Kau bahkan tak lagi punya bunga. Daunmu berguguran, tak ada lagi orang yang berteduh karena kau tak lagi rindang", tambah burung parkit panjang lebar. 
Awan menimpali, "Pohon kersen, sahabatku, jangan terlalu kau biarkan jiwamu terbang tinggi, kau tak punya sayap untuk mengambilnya kembali. Menapaktanahlah".
Dengan pedih pohon kersen menarik napas. Kali ini asanya benar-benar tergilas.


Siang itu, dalam tidurnya pohon kersen bermimpi. Mimpi indah. Hujan telah kembali pulang. Untuknya. Pohon kersen girang bukan kepalang. Dinikmatinya setiap detik mengesankan bersama hujan. Ah, sayang ini hanya mimpi. Ingin rasanya pohon kersen tak bangun lagi. Selamanya seperti ini, bersama hujan yang setia hadir di sisi. Belai rintiknya masih sama lembutnya. Suaranya, aromanya, masih sama seperti ketika pertama kali ia jatuh pada pesonanya. Mimpi itu terasa nyata, pohon kersen terbuai semakin dalam. Ia semakin tak ingin bangun. 
Tapi tak bisa. Pelan-pelan ia membuka mata. Hal pertama yang dilihatnya adalah angkasa. Kelabu. Siang itu langit kehilangan biru, dan pohon kersen tahu betul apa sebabnya. Ya, hanya satu. Hujan.
Pelan, diresapinya suasana yang melingkupinya. Hanya ada satu nuansa seperti itu di dunianya. Nuansa yang hanya sanggup diciptakan hujan. Pohon kersen gemetar. Hujannya telah kembali. Ia benar-benar pulang.




Pohon kersen diliputi emosi yang membuncah. Kompleksitas perasaannya sungguh nyata hingga tak sanggup menuturkan kata. Namun dekap eratnya pada sang hujan sudah mengungkapkan segala. Pada setiap bulir hujan dihempaskannya segenap rasa yang hanya mampu dipendamnya, jauh hingga ke relung terdalam. 
Dalam hangat dekapnya hujan menyapa, "Hai pohon kersen. Lama kita tak bersua. Aku rindu padamu".
Pohon kersen serasa meledak tak ubahnya kembang api. Memancar, bersinar. Dan sama halnya dengan kembang api yang pesonanya hanya sekejap, buncahan sukacitanya hanya lewat sekilas, lalu seketika padam. Pohon kersen disengat realita, dia bertahan untuk tidak melayang.
"Hai hujan. Lama sekali kau baru datang. Kau tahu, aku sudah terlanjur layu", desah pohon kersen.
"Maafkan aku. Aku akan membuatmu mekar kembali".
"Kurasa itu tak perlu. Kau tahu pak tua yang selalu mengutukimu? Nampaknya dia jatuh cinta pada batang kerontangku. Besok dia akan datang untuk menebang, menjadikanku meja pajang di ruang makan", sahut pohon kersen sendu.
Hening. Dan ketidakberdayaan untuk menuntaskan kata itu menggarami lukanya. Pedih.
"Jadi, kita tidak akan bertemu lagi?", tanya hujan.
Oh hujan,,, ingin sekali pohon kersen memaki, mengutuknya dengan sejuta mantra. Kau sungguh tak mengerti, hujan. Kau tak pernah mengerti.
"Kau secepatnya akan menemukan penggantiku".
Hujan menderaskan rinainya. "Tapi tak ada yang bisa menggantikanmu".
Pohon kersen diam, namun benaknya menguntai ribuan kata. Dicobanya  menyusun kepingan rasa yang berserak di hatinya. Dicobanya meluapkan emosi yang bersangkar di jiwanya. Pohon kersen mencoba menyatakan cinta.
"Bagaimana aku tak merindukanmu jika kau tak ada lagi di sini?", bisik hujan nyaris tak terdengar.
Ah, lalu selama ini kau dimana? Batin pohon kersen kelu. Hatinya ngilu.
"Aku juga pasti merindukanmu, hujan".
Pelukan hujan mengetat, meretas dinding pertahanan pohon kersen yang sekuat tenaga dibangunnya. Ungkapan cinta yang sedari tadi disusun dalam hati mendadak teracak, dan hanya didengar hujan dalam sederet kata,
"Terima kasih hujan, untuk semuanya".
Pohon kersen tertunduk pilu, seluruh dayanya runtuh, meluruh. Pohon kersen tak sanggup menahan lebih lama. Dia menangis.


Pohon kersen suka menangis di bawah hujan, karena tak akan ada yang melihat air matanya.

Demikianlah, satu minggu berlalu sejak pohon kersen menyudahi penantiannya pada sang hujan.  Satu minggu sejak dilepaskannya semua yang selama ini disimpan untuk hujan. Janji, cinta, dan airmata. Semua berakhir di sudut hangat ruang makan, tempat pohon kersen menjelma menjadi sebentuk meja cantik yang bersanding dengan perapian. Setiap pagi, burung parkit mematuki jendela, menyapanya. Jika siang tiba, giliran awan yang bertandang. Pohon kersen tak merasa kehilangan teman.
Ada kalanya pohon kersen sangat merindukan hujan. Jika hujan yang ditunggunya tak kunjung datang, dia hanya akan tersenyum dan berujar, "Ah,,dia pasti sibuk di tempat lain merayu pohon beringin".


Kini, pohon kersen sepenuhnya memahami, apa yang matahari pernah sampaikan kepadanya. Bahwa bagian terindah dari janji adalah justru ketika ia direlakan untuk menemukan kebenarannya sendiri.
Dan kebenaran itu sudah ditemukannya. Di sini, di sudut ruang makan, dimana pohon kersen sekarang sedang termenung memandangi hujan.
Tanpa ragu lagi pohon kersen menyadari, kini dengan utuh dia sudah memiliki hujannya.  Meski hanya seluas bingkai jendela.



Catatan penulis: kesejatian cinta sebenarnya bukan terletak pada kata-kata "Cinta tak harus memiliki" (saya tak pernah suka frasa cinta yang satu itu), melainkan mensyukuri dan mencintai apa yang kita miliki.
Buat apa bersikukuh mencintai sesuatu yang bukan untukmu. Kita punya bagian sendiri untuk dimiliki, cintailah itu.

Pohon Kersen dan Hujannya...(Part 1)


Alkisah, ada sebatang pohon kersen yang tumbuh di lereng bukit gersang. Anggun, teduh, bersahaja. Dan sendirian.
Daunnya yang rimbun dan buahnya yang merah menggugah, menggoda setiap orang yang lewat untuk melangkahkan kaki menghampirinya, sekedar duduk melepas lelah atau malah tertidur karena betah. Pohon kersen begitu pemurah. Disambutnya mereka dengan rengkuhan ranting dan senyum hangat bunganya. Diperbolehkannya sang angin berlarian di helai-helai daunnya. Diijinkannya burung-burung berdendang di pucuk tertingginya. Dijamunya mereka yang datang layaknya teman. 

Dari sekian banyak teman yang dimilikinya, ada satu yang terasa istimewa. Yang mampu menggamit jiwanya hingga meronta dari raga. Dia yang selalu dinantinya untuk singgah. Dia yang selalu diharapkannya untuk tinggal lebih lama. Dialah sang hujan. 
Ya, pohon kersen itu mendamba sang hujan dalam bisunya. Memujanya untuk setiap butiran air yang menyapa dalam kerontang. Nuansa yang hujan sajikan tiap kali dia datang membuat pohon kersen mabuk kepayang. Tak bisa dijawabnya ketika burung parkit sahabatnya bertanya mengapa bisa. Pohon kersen tak punya kosakata untuk menjabarkan cinta. Atau tak punya waktu karena habis untuk tersipu?
Ah, seperti inikah yang awan sebut dengan cinta?
Awan bercerita rasanya seperti terbang di antara bintang. Tapi pohon kersen tak pernah paham rasanya terbang. Baginya jatuh cinta terasa seperti ditaburi ribuan kunang-kunang. Ah, bukankah sama saja. 
Jatuh cinta berarti penuh cahaya.

Pohon kersen kadang tak mengerti, mengapa ada yang tak menyukai hujannya. Pak tua yang selalu membuka bekal di bawah bayang-bayang tengah harinya bahkan mengumpat jika hujan singgah ke bukit itu. Apa salah hujan? Bukankah dia begitu menyenangkan? Bukankah dia begitu indah? Begitu pikir pohon kersen yang sedang didera asmara. 
Pohon kersen ingat, betapa hujan sangat perhatian. Di suatu masa, ketika pohon kersen untuk pertama kalinya merasakan lara, hujan tak jemu menemaninya. Hujan mengemas sebuah bingkisan paling manis yang pernah pohon kersen terima sepanjang dia tumbuh di sana. Usai tengah hari, ketika matahari masih meraja di angkasa, dibujuklah angin agar meniup mendung tepat di atas bukit itu. Dan tiba-tiba dengan sangat rupawan hujan tampil di sana dengan latar matahari siang yang tersenyum lewat sinarnya. Dibiaskannya senyum matahari itu menjadi sebaris warna. Merah, kuning, hijau, lalu entah apa. Pohon kersen menakjubi keajaiban di depannya. Warna-warni itu terlampau indah untuk diungkapkan dalam bahasa apapun juga. Dia hanya mampu menatap dan memuja. 
Itulah pelangi pertamanya.

Pernah pohon kersen disengat cemburu. Pada gadis kemayu yang suka sekali menari di bawah payung berwarna biru ketika hujan menderaskan belaiannya. Pohon kersen tak suka jika gadis itu mulai bernyanyi. Hujan akan sangat menikmati dan melupakan ceritanya tentang berbagai tempat di balik bukit yang tak pernah pohon kersen dengar sebelumnya.
Atau pada mawar. Tak perlu bertanya mengapa bunga mawar membuatnya iri.
Pernah suatu ketika ditanyainya sang hujan,
"Mengapa kau tak ikut bermain bersama awan di belukar mawar? Bukankah kalian semua suka cantiknya? Oh ya, dan dia wangi tentu saja."
"Oh, aku tak suka mawar. Bagiku dia biasa-biasa saja. Rasanya percuma dan tak berguna kalau cantik tapi bisa membuat luka. Tahukah kau mengapa parkit tak pernah berpaling satu kalipun pada rona merahnya? Karena menurutku hijau daunmu jauh lebih mempesona."
Ah, ingin sekali pohon kersen merengkuh hujan yang saat itu begitu menggemaskan, menyimpannya di balik dedaunnya agar tak pergi walau kemarau menghampiri.


Begitulah cinta pohon kersen pada hujan yang dikuburnya begitu dalam. Tak mampu diambilnya kembali hati yang telah terdampar. 
Awan pun mencandainya, "Jika seseorang menggali di sekitarmu, dia pasti tak akan menemukan akar, melainkan gundukan perasaan cintamu yang tak tersampaikan".
Pohon kersen hanya sanggup membuang pandang.
"Kenapa kau tak pernah bilang padanya?", tanya si parkit sahabatnya.
"Aku tak punya cukup keberanian"
"Keberanian untuk menghadapinya?" 
"Bukan. Keberanian untuk menghadapi diriku sendiri seandainya nanti aku terluka"

Ini purnama kali ketiga pohon kersen tak jumpa dengan hujannya. Bukan rindu lagi namanya. Ini derita. Sudah lama dia tidak merasa demikian tersiksa, terakhir kali adalah saat dilihatnya pemuda yang tinggal di kaki bukit pindah ke kota. 
Hujan dan ketidakhadirannya meninggalkan dahaga. Setiap petang dirapalkannya sebaris doa, meminta agar hujan kembali demi menghabisi rindunya. Namun doa itu terasa hanya menggantung di udara.
Pohon kersen merana dalam kepungan hampa.....

(disambung pada episode berikutnya ^_^)